HATI YANG “BERISI” → HATI YANG DEGIL

by samuelyasa


3:1 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!”4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja 5 Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. 6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

                           (Markus)

Pernahkan anda bertemu dengan orang yang keras hatin? Orang yg cenderung sulit menerima pendapat orang lain, merasa benar sendiri dan sangat sulit untuk diajak bicara. Mereka enggan untuk setuju dg lawan bicara, lebih senang berdebat walau mungkin dalam hati mereka setuju dg apa yg dikatakan orang lain. Pernahkah anda bertemu dg orang seperti ini?Orang seperti ini biasanya bertumbuh dengan   menjadi orang yang degil.
Firman Tuhan di atas menceritakan  tentang para Farisi. Yang  dalam hidup mereka mengeraskan hati untuk tidak percayakpd Yesus, walapun banyak bukti, kesempatan yg mereka saksikan. Mereka memiliki keadaan hati yg mendukakan hati Yesus. Hati mereka sangat keras dan itu mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, Dalam banyak kesempatan yg tercatat dalam Alkitab, kita bisa melihat kemunafikan mereka. Mereka merasa sebagai orang yg paling rohani, paling suci,paling tahu segalanya, paling hebat, dan kesombongan ini membuat hati mereka mengeras. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Mereka mencari berbagai peluang bukan untuk membuktikan kebenaran tetapi menyalahkan kebenaran, kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka tidak memberikan dampak dalam hidup mereka, alangkah ironisnya, mari jangan membuat hidup kita menjadi ironis, lembutkan hati bagi Dia, Amin.          hp