KEHILANGAN KEKUASAAN

by samuelyasa


1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

 

11:4 Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

Kejadian

 

Beberapa generasi setelah nabi Nuh, ketika manusia masih berbicara dengan bahasa yang sama bahkan dengan logat yang sama mereka melakukan sebuah keputusan yang sepertinya baik, untuk suatu kesatuan, namun sesungguhnya itu merupakan bentuk penolakan atas apa yang Allah kehendaki bagi umat-Nya yaitu pergi dan memenuhi bumi. Allah yang Maha Tahu itu mengerti dengan sangat tujuan hati mereka, sehingga dikacau-balaukanlah mereka, tidak lagi berkomunikasi dengan baik.

 

Kalau memang hanya untuk urusan mencari nama, menyatakan kehebatan dan kekuasaan sebenarnya manusia tidak perlu repot-2 harus melakukan banyak hal. Bukankah hal itu telah Allah berikan kepada manusia sebagai ciptaan-Nya? Ia ciptaan yang tertinggi, terhebat sehingga IA mempercayakan kepadanya sebagai penguasa? Dosa telah membuat manusia kehilangan kekuasaan yang dimandatkan-Nya. manusia berdosa yang haus kekuasaan selalu membangunnya untuk menunjukkan siapa dirinya dengan kekuasaan yang dibangunnya. Kekuasaan menjadi kompetisi sejarah manusia yang tiada berakhir. Mengapa?

 

Renungkan. Kehausan akan kekuasaan bisa membuat manusia jatuh dalam dosa, bahkan tidak jarang ada yang berani melakukan hal yang “tidak pantas” untuk sebuah kekuasaan. Namun pada sisi lain, karena manusia jatuh di dalam dosa maka manusia memiliki kehausan yang amat sangat akan kekuasaan. Sesuatu yang telah dianugrahkan dan dilepaskan karena dosa dan dikejar kembali di dalam dosa dengan cara berdosa.     jp

Iklan