KEBEBASAN YANG MEMBELENGGU

by samuelyasa


3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. 8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” 11 Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”

Kejadian

Iblis (ular) memang menyatakan fakta sesuai dengan janjinya, yakni mata yang terbuka, dan demikianlah yang terjadi pada mereka (ayat 7). Namun yang menjadi masalah baru adalah mengapa mereka harus malu dengan dirinya yang telanjang dan harus menutupi dengan cawat pohon ara? Bukankah mereka telah telanjang selama ini? Mengapa mereka harus bersembunyi dari Allah karena dirundung oleh rasa takut? Bukankah selama ini mereka dengan leluasa dan sebebas-bebasnya telah bergaul dengan Allah yang menyediakan segala yang baik bagi mereka? Apakah ini memang yang manusia harapkan, untuk hidup dengan bebas dan leluasa di hadapan Allah. Dan mereka pikir setelah mencicip sebuah kebebasan yang ditawarkan oleh ular, maka bertambahlah kebebasan tersebut? Bukankah sebuah larangan adalah simbol ketidak bebasan, atau kebebasan berarti ketiadaan larangan?

 

Tidak jarang manusia salah mengartikan kebebasan. Seringkali kebebasan diidentikkan dengan ketiadaan larangan, ketiadaan batasan, ketiadaan aturan dan ketiadaan syarat. Benarkah demikian?

Renungkan. Pernahkah anda pikirkan bahwa manusia dapat menggunakan kebebasannya untuk merespon si ular, bila ia bisa memetik dan memakan, maka ia-pun bebas untuk tidak memetik dan memakan?   jp