Kuk yang Enak

by samuelyasa


“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.                                                                                    (Mat 11:29-30)

‘Kuk’ di dalam Alkitab memiliki makna yang sangat menarik. Kata ini bisa bermakna ‘penindasan’, atau juga bisa berarti berada ‘di bawah suatu kekuasaan’. Kata ‘kuk’ juga bisa berarti bergabungnya dua orang menjadi satu, seperti halnya dengan menggabungkan dua hewan menjadi satu. Kuk diletakkan di pundak kedua hewan tersebut dan bajak dipasang di antara keduanya. Dan untuk alasan ini, kata ‘kuk’ lazim dipakai untuk menggambarkan pernikahan. Sebagai contoh, di 2 Korintus 6:14 dikatakan, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang (unequally yoked atau dikukkan secara tidak seimbang) dengan orang-orang yang tak percaya.” Itu berarti jangan menikah dengan orang yang tidak percaya. Kata yang diterjemahkan itu aslinya berbunyi: “Janganlah dijadikan satu kuk (do not be yoked)”. Jadi, mengenakan kuk Yesus dan dijadikan satu kuk dengan Kristus berarti disatukan dengan dia.

Dengan demikian apa yang diungkapkan Yesus dalam ayat ini bukan masalah membuang beban melainkan menggantikan satu beban dengan beban yang lain, bukan tawaran untuk tidak lagi mengenakan kuk; melainkan menggantikan satu kuk dengan kuk yang lain. Namun perbedaannya adalah bahwa kuk yang Yesus berikan ini adalah kuk yang enak. Kata ‘enak’ berarti nyaman dan memuaskan. Jauh dari pemikiran tentang kuk pada umumnya, kuk yang ini justru menjadi kuk yang menyenangkan untuk dipakai. Mungkin kita berkata, “Kuk macam apa yang enak dipakai? Sekali kuk tetap kuk.”

Berada di bawah kuknya Yesus secara sederhana berarti menyerahkan diri kita ke bawah kewenangannya. Hidup dalam ketaatan penuh terhadap Dia. Lebih jauh lagi bahwa mengenakan kuk berarti memikul salib. Namun ditengah semuanya itu Ia berjanji bahwa hidup dalam ketaatan kepada-Nya adalah baik untuk kita, dan Dia akan memberikan kelegaan kepada kita. Artinya, Tuhan tidak ingin melepaskan kita dari ikatan dengan Dia, karena hanya jika kita berada di dalam Dialah kita dapat mendapatkan ketenangan sejati. Tanggung jawab yang Dia berikan di dalam kuk-Nya tidak akan membuat kita merasa letih lesu, namun justru akan membawa kepuasan dalam jiwa kita.                        Dan 

Iklan