Bebas??

by samuelyasa


Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.                         (Roma 7:6)

Kebebasan itu fantasi;. katanya urusan jodoh sepenuhnya ada di tangan?Asalkan dari keluarga kepandang, gak cuma cantik, tapi juga santun. Kebebasan itu lucu; katanya bebas berteman dengan siapa aja? Asal, orang tua suka.

 

Itulah kutipan puisi iklan kartu provider yang beberapa waktu ini melengkapi suguhan yang disajikan televisi  dirumah kita. Makna yang ingin disampaikan pengiklan adalah bahwa sebenarnya hanya provider merekalah yang menawarkan kebebasan yang benar-benar real tanpa ada batasan. Dan itu yang mereka tegaskan dalam tagline terakhir : “we are always on, Kebebasan itu nyata”.  Manusia hidup di dunia lebih condong memilih kepada kebebasan. Kebebasan dalam arti seluas-luasnya, bahkan cenderung tanpa batas. Bebas berpikir, bebas berkata-kata, bebas bertindak, dan sebagainya. Itulah sebabnya banyak orang memuja prinsip demokrasi yang memberikan kebebasan berpendapat bagi rakyat. Manusia dalam kedagingannya juga menginginkan kebebasan; melepaskan diri dari segala macam ikatan. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kebebasan seperti itu sungguh ada?

Firman Tuhan menegaskan bahwa kita memang orang bebas, namun dalam konteks Perjanjian Baru, kata atau pengertian ‘bebas’ selalu mengacu kepada keselamatan, yaitu bebas dari dosa (Rm 6:7). Kebebasan ini sama sekali tidak mengacup ada perbuatan sekehendak hati atau semau gue. Memang kebebasan ini juga berarti tidak lagi dalam ikatan Hukum Taurat (Rm 7:6), tapi ini tidak berarti kebebasan tanpa hukum apapun. Pada waktu kita berdosa, kita tidak bebas dari ikatan dosa. Sekalipun tampaknya kita bebas melakukan apapun, namun sesungguhnya kita menjadi hamba dosa. Kita terikat erat pada dosa kita. Namun begitu keselamatan diperoleh atas anugerah Tuhan, tidak ada dosa yang mengikat. Ikatan itu kini digantikan oleh ikatan lain, yaitu ikatan kasih karunia. Di situlah kita menjadi hamba kebenaran; hamba Allah. Maka sesungguhnya kita bukan bebas tanpa ikatan. Hanya ada dua pilihan; terikat dan menjadi hamba dosa yang menuju kepada kebinasaan, atau terikat dan menjadi hamba Allah yang menuju pada kehidupan. Matius 6:24 mengatakan; “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan…Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Manakah yang akan kita pilih?                                                                                      Dan