Bebas namun Terikat; Paradox Kekristenan

by samuelyasa


Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

 

(Kej.3:4-5)

Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. (1Kor.6:17)

 

Kisah yang ironis dari Kejadian pasal 3 tentunya bukan hal baru bagi kita. Dari pasal ini ada banyak kejadian penting yang mendasari seluruh kejadian-kejadian selanjutnya sampai detik ini dan sampai akhir zaman nantinya. Namun saat ini mari kita memfokuskan pada serangan iblis dalam bagian ini;

Pertama, iblis mengatakan bahwa Hawa dan suaminya tidak akan mati (3:4). Kebohongan ini diucapkan dengan sangat tegas. LAI:TB mencoba mengekspresikan hal ini dengan frase “sekali-kali”. Berbagai versi Inggris memilih “sesungguhnya” atau “pasti”. Kedua, mata manusia akan terbuka (3:5). Dalam Alkitab ungkapan ini sangat berkaitan dengan pengetahuan. Ketiga, mereka menjadi seperti Allah (3:5). Kesamaan ini diterangkan dalam konteks mengetahui yang baik dan yang jahat. Ini adalah tawaran untuk menjadi lebih daripada batasan yang ditetapkan Allah waktu penciptaan. Manusia yang adalah gambar Allah (1:26-27) sekarang diberi tawaran oleh ular untuk menjadi seperti Allah. Manusia yang sebelumnya harus tunduk dan taat kepada Allah sekarang mencoba menjadi otonom. Secara umum dapat dikatakan bahwa iblis menawarkan kebebasan dalam setiap aspek pada manusia; kebebasan dari kematian, kebebasan bertindak, kebebasan dari Allah!

Ironisnya, hasrat manusia untuk mencapai kebebasan itu justru menjadikannya terikat dalam perhambaan dosa. Kejadian pasal 3 menjadi awal bagaimana hidup manusia terus dibayang-bayangi oleh hukum maut. Secara menarik Paulus dalam 1 Korintus 6:17 justru menungkapkan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia”. Barangsiapa mengikatkan diri pada Tuhan akan mendapatkan kebebasan sejati! Inilah paradox kekristenan; bebas ketika mengikatkan diri (pada Allah), dan terikat (dalam hukum dosa) ketika berusaha melepaskan diri dari-Nya. Yang manakah yang akan kita pilih?

Dan