Hamba: Setia Pada Tuannya

by samuelyasa


Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”                                                                                     (Lukas 16:13)

Siapa yang tidak kenal Mbah Maridjan. Almarhum adalah abdi dalem dan juru kunci Gunung Merapi yang bekerja untuk Keraton Jogyakarta. Tugasnya menjaga dan mengawasi aktivitas gunung Merapi,  selain itu juga memimpin dan mempersiapkan acara ritual yang merupakan tradisi di sana. Beliau meninggal dalam tugas pada waktu Merapi meletus tanggal 26 Oktober 2010 lalu. Gaji seorang ‘penjaga Merapi’ tidaklah seberapa, lalu apa yang menjadi dasar  bagi Mbah Maridjan sehingga dia rela menjadi seorang abdi dalem Kraton sampai akhir hayatnya? Tentu bukan karena tidak punya pekerjaan lain, dan juga bukan karena uang. Melaikan karena ingin mengabdikan diri. Kata hamba memiliki beberapa arti: budak, pelayan, hamba. Tetapi juga bisa berarti: “seseorang yang memberikan dirinya sendiri bagi kehendak orang lain (tuannya) dan melayaninya dengan kemampuannya.” Artinya, sebagai seorang hamba (dalam hal ini hamba Kristus), harus memberikan dirinya sendiri dengan sukarela dan melayani dengan sepenuh hati dan setia kepada Kristus. Inilah yang sebenarnya juga ingin ditegaskan oleh Tuhan Yesus. Sebagai orang yang telah ditebus, kita bukan lagi hamba dosa, melainkan hamba Kristus. Salah satu sifat seorang hamba adalah setia pada tuannya. Untuk itu kita harus taat dan mengabdikan diri dengan setia hanya pada Kristus.  Mbah Maridjan bukanlah orang Kristen, namun ia rela melayani dan mengabdikan diri tanpa pamrih, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri. Seharusnya kita lebih dari itu, ketika melakukan pelayanan motivasi kita seharusnya bukan karena upah, kehormatan, kepuasan diri, atau pujian, melainkan karena pengabdian. Jangan memberi kesempatan kepada popularitas, kekayaan, atau kehormatan mengaburkan dan mencondongkan hati kita kepada hal-hal yang bersifat sementara. Tetapi layanilah Tuhan dengan sukarela dan sukacita, jangan karena terpaksa dan bersungut-sungut. Melayani juga harus dengan sepenuh hati dan totalitas hidup, sampai akhir hayat.