Dimana Hartamu Berada, Disitulah Hatimu

by samuelyasa


 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat  merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Matius 6:19-21)

 

Tentu kita masih ingat bencana banjir yang melanda Jakarta beberapa waktu yang lalu. Gambar di samping adalah salah satu mobil mewah sehara 10 M yang terjebak banjir di Jakarta. Mobil seharga 10 M tersebut tidak berdaya ditengah kepungan banjir yang melanda Jakarta. Bukan hanya mobil-mobil mewah, tapi rumah-rumah mewah, dan banyak harta berharga juga tenggelam karena banjir. Mobil, rumah  mewah, dan banyak harta berharga yang mungkin dibanggakan dan diandalkan oleh banyak orang, namun tak berdaya ketika banjir menenggelamkannya. Hal tersebut seharusnya menyadarkan kita bahwa harta dunia itu bersifat sementara, dan tidak boleh dijadikan sebagai ‘andalan dan menaruh harapan’ hidup.

Tuhan Yesus mengingatkan ketika harta menjadi yang paling utama dalam hidup kita, maka disitulah nilai dan harga diri berada. Kesanalah tertuju segala keinginan dan  hasrat, disitulah akan mengarah segala maksud dan tujuan hidup, dan segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan pandangan akan harta itu. Dimana hartamu berada, disitu juga perhatian dan kekhawatiran kita berada, karena takut kehilangan harta itu. Hal itulah yang paling kita cemaskan. Dimana harta berada, maka disitu juga seseorang meletakkan segala harapan, dan kepercayaan dalam hidupnya (Ams. 18:11). Disitu juga segala pikiran-pikiran berada.

 

Ketika harta dijadikan yang paling utama dalam hidup, maka akan mencondongkan hati seseorang kepada harta yang dimilikinya. Sehingga harta itu yang dijadikan andalan dan harapan hidupnya, bukan lagi Tuhan. Hal ini menjadi peringatan penting bagi kita, agar tidak hanya mengumpulkan harta dunia dan menjadikannya sebagai sandaran hidup. Sebagai orang percaya, hanya Tuhan-lah yang harus dijadikan sebagai andalan dan sandaran hidup kita.