Love Money or Love God

by samuelyasa


Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1Tim 6:1 )

Siapa sih yang tidak mau menjadi kaya, hidup serba berkecukupan, bahkan berkelimpahan, dan memiliki banyak uang? Tentu saja banyak orang yang mau. Oleh sebab itulah demi untuk ‘Rupiah’ orang rela mati-matian bekerja siang-malam, sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawab dalam keluarga. Demi ‘Rupiah’ ada juga orang yang rela mengorbankan teman, rekan bisnis, bahkan tidak sedikit yang tega mengorbankan keluarganya. Banyak juga orang yang menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan ‘Rupiah’. Ada orang yang mencari kekayaan dengan pergi kepada dukun, atau mencari ‘pesugihan’.  Mencari ‘pesugihan’ adalah upaya memperoleh kekayaan secara cepat yang dimohonkan kepada Iblis dengan cara menyepakati perjanjian dan biasanya dibayar dengan tumbal/korban. Sehingga sangatlah tepat apabila I Tim. 6:9 berkata: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan”. Ada juga orang yang ingin cepat kaya dengan menjual obat-obat terlarang, menipu, merampok, mencuri, dll. Jadi pada intinya banyak orang ingin menjadi kaya mendadak tetapi tidak mau berusaha dengan cara yang benar, justru dengan cara-cara yang jahat. Untuk itulah Rasul Paulus mengingatkan bahwa: “akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (I Tim. 6:10). Uang memang penting, tapi uang bukan segala-galanya. Kaya dan banyak uang tidak salah, akan tetapi jangan sampai salah dalam menyikapi dan menggunakan kekayaan. Kita harus menngunakan berkat yang Tuhan berikan dengan bijaksana. Jangan sampai kekayaan dan uang yang banyak menjadikan kita menjadi orang yang ‘cinta uang’. Pesan penting yang harus diingat: ketika kita banyak diberi dan diberkati oleh Tuhan, seharusnya membuat kita semakin mencintai Sang Pemberinya, bukan pemberiannya.