Keteladanan Seorang Hamba Sekaligus Tuan (3) (Matius 15: 32-39)

by samuelyasa


Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.                                                                       Matius 15: 36

Kisah yang kita baca ini adalah kisah tentang Yesus memberi makan 4000 orang laki-laki. Setiap kali kita membaca kisah Yesus memberi makan orang (Mat. 14: 13-21; 15:32-39) maka kita akan menemukan pola yang sama yaitu Yesus tergerak oleh belas kasihan sedangkan para murid penuh dengan kekuatiran. Para murid mengkhawatirkan tentang banyaknya makanan yang harus disediakan sedangkan mereka hanya memiliki sedikit perbekalan.  Kalau kita pikir-pikir kekuatiran para murid cukup masuk akal. Tetapi yang sangat menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana Yesus menanggapi kekuatiran ini.  Yesus bertanya apa yang ada padamu? Ketika apa yang ada pada para murid sampai di tangan Tuhan, semua masalah terselesaikan. Teladan yang diperlihatkan Tuhan di sini adalah tentang bagaimana bersyukur atas apa yang dipunyai maupun apa yang terjadi atas dirimu.

Mengucap syukur menjadi bagian yang selalu diulang dalam Alkitab kita dan artinya ini adalah bagian yang penting.  Sadarkah kita bahwa ketika kita menjadi orang yang senantiasa mengucap syukur maka kita akan terbebas dari pikiran-pikiran negatif entah itu tentang sesuatu hal atau tentang orang lain.   Dan tahukah kita bahwa ketika kita menjadi orang yang senantiasa mengucap syukur maka kita akan mempengaruhi orang yang dekat dengan kita?

Dalam perbincangan antara istri saya dengan seorang rekan berkenaan dengan hati yang bersyukur, istri saya merasa tertegur dengan ungkapan dari rekan tersebut yang mengingatkan untuk selalu bersyukur walaupun harus bekerja keras untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Rekan tersebut mengatakan bahwa ia selalu menyaksikan dampak negatif dari hati yang tidak bersyukur. Mungkin itu emosi yang jadi tidak stabil, kerjaan yang tidak terselesaikan dengan baik atau yang lainnya. Dan ia mengatakan bahwa ada kalanya perkataan-perkataan yang keluar menjadi perkataan yang tidak membangun.

Kami mencoba merenungkan perbincangan tersebut dan memang demikianlah adanya.  Oleh karena itu mari kita semua belajar untuk selalu mengucap syukur karena itu yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Amin.                                                                                                   Jho