Keteladanan Seorang Hamba Sekaligus Tuan (2) (Lukas 19: 1-10)

by samuelyasa


Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Lukas 19: 5

Kisah Zakheus sudah tentu bukan kisah asing lagi bagi setiap kita.  Bahkan ada lagu SM yang dikarang dan liriknya sudah menceritakan tentang kisah Zakheus dengan lumayan lengkap.

Dari kisah ini saya ingin mengajak kita merenungkan tentang penerimaan.  Zakhheus adalah seorang yang kaya tetapi ia sangat tidak disukai oleh masyarakat yang ada di kota Yerikho.  Boleh dibilang dia tidak memiliki teman selain orang-orang yang sejawat dengan dia dan keluarganya.  Dia tidak disukai karena pekerjaannya.  Dia adalah seorang kepala pemungut cukai.  Kekayaan yang didapatkanya adalah hasil perasan dari masyarakat yang ada di sana.  Dia mendapatkan penolakan dari masyarakat termasuk orang sebangsanya.  Ia adalah seorang keturunan Abraham tetapi ia ditolak.  Orang-orang sebangsanya menganggapnya sebagai pengkhianat karena ia bekerja pada penjajah yaitu bangsa Romawi untuk memeras bangsa sendiri. Tetapi ketika Yesus ada di kota itu, Yesus menerima Zakheus.  Tentu Yesus tahu reputasi Zakheus dan bagaimana sikap orang banyak terhadapnya.  Yesus tidak mempedulikan itu.  Ia menerima Zakheus dan ia mau menumpang di rumah Zakheus.  Perhatikan kata “harus” pada ayat 5.  Kata ini mempunyai makna “keharusan ilahi” yang artinya ini memang disengaja oleh Yesus karena ada rencana Tuhan yang akan dikerjakan di sana.  Yesus tentu saja tahu respon seperti apa yang akan didapatkan-Nya dari orang-orang Yahudi yang mengikuti Yesus pada saat itu. Tetapi Ia tidak mempedulikannya.  Ia lebih peduli pada jiwa Zakheus yang butuh keselamatan.  Dia peduli pada jiwa-jiwa yang membutuhkan kasih Tuhan.

Buka mata Anda dan pandanglah sekitar Anda.  Anda akan menemukan orang-orang yang dengan beraneka ragam keunikkan mereka.  Ada yang menyenangkan, ada juga yang menyebalkan. Ada orang yang memceriakan suasana tetapi ada juga yang sebaliknya. Kecenderungan kita adalah bersahabat dengan orang-orang yang menyenangkan saja.  Tetapi ingatlah bahwa di sekitar kita ada orang orang yang ditolak.  Sekarang, siapkah kita menjadi orang yang membuka tangan kita menerima mereka? Mungkin ada konsekuensinya, siapkah kita menerima konsekuensinya?  Renungkanlah!                                     Jho