HAMBA KEPERCAYAAN

by samuelyasa


 4:1 Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. 2 Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.                                            (1 Korintus)

Mungkin kita pernah mendengar kisah-2 kehidupan tentang keluarga dan pertikaian yang hampir terjadi di dalamnya. Lama setelah kematian kedua orangtuanya maka seorang pengacara mengundang anak-anak untuk berkumpul membicarakan masalah harta benda dan hak mereka sebagai ahli warisnya. Setelah berkumpul, sang pengacara menyampaikan bahwa ia hanya diminta untuk membantu sementara segala sesuatu yg berkenaan dengan waris dipercayakan dan akan disampaikan secara lisan oleh pak tua yg selama ini dikenal sebagai “hamba” ayah mereka yang memang dikenal setia.  Kontan hal itu menimbulkan reaksi bagi anak-2, walaupun setelah pertemuan itu usai semua menerimanya dengan baik.

Reaksi yang wajar muncul, bagaimana mungkin seorang hamba diberikan kepercayaan yang penting sementara anak-2 dan sang pengacara tidak tahu menahu tentang hal waris itu lebih jauh. Mengapa ada hamba yang begitu dipercaya oleh sang tuan?

Mungkin respon kita sangat bermacam khususnya untuk memberi jawab mengapa hamba tersebut dipercaya oleh sang tuan. Mungkin jawaban yang spekulatif akan mengatakan bahwa anak-2 belum waktunya memahami hal-2 demikian; sementara sang tuan tidak dapat memberikan kepercayaan penuh kepada sang pengacara. Tetapi yang jelas dimata sang tuan, hamba tersebut memiliki kualifikasi tertentu yang membuatnya mantap untuk mengemban rahasia keluarga yang akan disampaikan pada waktunya.

Sebenarnya posisi kita jauh melebihi hamba dalam cerita di atas. Mengapa? Ya, karena yang kita emban adalah rahasia Allah yang dipercayakan kepada kita. Bukan rahasia yang bersifat fisik dan sesaat, melainkan rahasia yang mendatangkan hidup kekal dan melibatkan anugerah Allah. Masalahnya, bagaimana kualifikasi kita sebagai hamba?Jp

Iklan