PRASASTI KEKUASAAN

by samuelyasa


11:1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya. 2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana. 3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan tér gala-gala sebagai tanah liat. 4 Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.

Kejadian

 

Betapapun manusia menyukai masa depan dengan berbagai kemajuan yang dicapai, kenyataannya manusia sangat mencintai masa lalu dan sejarah yang dibuatnya. Tidak sedikit orang yang tidak rela kehilangan masa lalunya apalagi diukir dalam sebuah kejayaannya.

Sekalipun PRASASTI diartikan sebagai piagam yang tertulis pada lempengan logam, batu atau sejenisnya, namun sesungguhnya prasasti dapat diwujudkan dalam bentuk yang lain, di mana di dalamnya dapat dirasukkan keinginan manusia untuk dikenang, termasuk kekuasaannya.

Nampaknya pembangunan menara babel berlabelkan keutuhan umat manusia (agar tidak berserak ke seluruh bumi), walau secara hurufiah dapat pula diartikan sebagai sebuah symbol kekuatan ras manusia (mencari nama) yang superioritasnya harus dikenang. Menjadi kebanggan tersendiri bila kekuasaan seseorang berhasil dikenang bahkan ketika melewati lintasan waktu, tentu saja oleh generasi berikutnya.

Manusia pada hakekatnya ingin membangun prasasti dalam hidupnya yang dapat dituangkan pada dalam bentuk prasasti sesungguhnya, namun juga bisa diwujudkan dalam bentuk bangunan dan hasil karya yang lain. Hal ini dilakukannya khususnya ketika manusia mengalami kejayaan dan ketika posisinya menjadi seorang “tuan.”  Bagaimana ketika ia mengalami kegagalan, kejatuhan bahkan menjadi “budak,” apakah ia mau hal itu juga dikenang oleh orang lain?                        jp