Sudahkah Ku Ceritakan Kasih-Nya? (Yohanes 4:39-42)

by samuelyasa


Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: ”Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”   (Yoh. 4:39)

 

Kisah mengenai pertobatan perempuan Samaria ini bukanlah kisah yang baru atau asing dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Kisah ini dimula ketika Yesus sangat letih oleh karena sebuah perjalanan.  Oleh karena itu, Ia duduk di tepi sumur Yakub.  Hari itu kira-kira pukul 12, Ia bertemu dengan seorang perempuan Samaria yang hendak menimba air.  Dalam kesempatan ini Yesus berbicang-bincang dengan perempuan ini. Tentu saja, hal ini membuat perempuan Samaria ini menjadi heran, mengapa demikian? Karena orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Bahkan, orang Samaria dipandang rendah oleh orang Yahudi. Hingga ada sebuah tradisi yang dipelihara oleh orang Yahudi, yaitu: jikalau salah seorang dari anggota keluarga dari orang Yahudi menikah dengan orang Samaria maka keluarga akan mengadakan kebaktian perkabungan.  Dengan kata lain orang Yahudi yang menikah dengan orang Samaria dianggap sudah mati. Di dalam kesempatan ini, Yesus bercerita tentang air hidup. Ia adalah air hidup itu sendiri.  Ketika perempuan ini ditawarkan air hidup ini, ia antusias akan hal ini. Dalam kesempatan itu, Ia [Yesus] memperkenalkan diri-Nya kepada perempuan itu (lih. ayat 26).Meresponi hal ini, maka perempuan ini meninggalkan tempayannya di sana. Hal ini dilakukan karena sukacitanya karena ia telah bertemu dengan Yesus yang adalah Mesias itu. Ia pun menceritakan cinta kasih yang telah ia alami bersama-sama dengan Mesias. Hasilnya, tidak sedikit orang datang kepada Yesus, mendengar perkataan-Nya dan percaya pada-Nya.

Setiap kita yang merenungkan firman Tuhan pada hari ini pasti pernah mengalami cinta kasih Tuhan sebagaimana yang dialami oleh perempuan Samaria ini. Jikalau perempuan Samaria ini dengan antusias menceritakan pengalamannya berjumpa dengan Mesias, bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita memiliki semangat yang sama? Pengalaman itu tellah menjadi bagian dari hidup perempuan Samaria itu, bagaimana dengan pengalaman kita bersama dengan Kristus? Masihkah pengalaman itu menjadi bagian hidup kita dan menggetarkan hati kita? Jika masih, sudahkah dan maukah kita membagikan pengalaman yang menggetarkan hati kita dan telah menjadi bagian hidup kita kepada mereka yang belum pernah mengalaminya? Bersediakah kita menceritakan kasih-Nya yang luar biasa itu? Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Amin.      cu

Iklan