Siapakah Sesamaku?

by samuelyasa


“Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

Lukas 10: 29

 

Memperhatikan bagian nats ini (Lukas 10:25-37) sangat menarik. Seorang ahli Taurat sedang mencobai Tuhan Yesus dengan pertanyaan yang sesungguhnya malah membuka “kedok aslinya” bahwa ia hanya memahami Taurat hanya sebatas di pengetahuan saja, sementara integritas dirinya dan keterbukaan hati untuk Allah masih mengambang.

 

Kisah orang Samaria yang terkenal ini, selalu memberikan pemahaman yang indah bagi saya dalam menjalani panggilan Tuhan, khususnya membangun kepekaan terhadap orang lain yang tentunya dimulai dari pengenalan diri yang sesungguhnya di dalam Tuhan. Ketika kita dapat melihat nilai diri secara benar di dalam Tuhan, maka pemahaman ini akan menolong kita untuk dapat memberikan nilai yang benar pula kepada orang lain sebagai sesama.

 

Ketika kita lebih cenderung untuk mengandalkan kuasa dan kehebatan diri (pikiran) kita sendiri, maka kita akan melihat orang lain (sesama) hanyalah sebatas “like or dislike” (suka atau tidak suka). Artinya, kita akan memberikan perhatian atau pertolongan kepada mereka yang kita suka, sebaliknya kita akan menutup diri dengan rapat untuk mereka yang benar-benar tidak kita suka.

 

Di akhir kisah orang Samaria ini, Tuhan Yesus menekankan sebuah pernyataan yang harus menjadi perhatian kita semua. “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!

 

Doa; Tuhan Yesus ajarlah kami untuk memahami nilai diri kami dihadapan-Mu sehingga kamipun dapat melihat orang lain sama seperti yang Engkau lihat, amin.                                                                                             Giant