Kesadaran Diri

by samuelyasa


Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku”

Filipi 1: 20

            Berpikir dan melakukan sesuatu yang baik sering membuat kita bingung, sebab kita sering tidak tahu bagaimana harus memulainya. Apalagi berkaitan dengan orang lain, hampir dipastikan kita kurang “care” dengan apa yang terjadi sebab kita masih bergelut dengan urusan dan kenyamanan diri sendiri. Kita akan selalu berkata “memikirkan diri sendiri saja sudah susah dan stress, koq mikirin orang lain

 

Berpikir dan bertindak secara positif yang dapat menjadi berkat bagi orang lain (berdampak kepada orang lain) semakin menipis seiring dengan sikap individualistis dan egois yang semakin meningkat dengan alasan sebagai persiapan diri untuk masa depan yang diharapkan. Semakin kompleks permasalahan yang timbul, maka semakin membuat kita berupaya untuk membangun “rasa aman dan nyaman” secara pribadi. Celakanya, orang lain sering dianggap sebagai “lawan” yang berbahaya.

 

Rasul Paulus menyadari keberadaan dirinya. Ia tidak pernah merasa malu dipenjara karena memberitakan Injil Kristus. Justru di dalam penjara, rasul Paulus dapat semakin menjadi berkat bagi banyak orang. Keadaan terpenjara tidak membuat rasul Paulus mengeluh dan putus asa atau merenungi nasib dirinya yang menderita. Justru di dalam penjara, rasul Paulus menulis banyak surat untuk segenap jemaat yang pernah dilayaninya dalam pemberitaan Injil.

 

Kesadaran dirinya sebagai milik Kristus, mendorong rasul Paulus untuk tetap berpikir dan bertindak yang menjadi berkat bagi banyak orang. Bagaimana dengan anda?

 

Doa; Tuhan Yesus, bukalah hati dan pikiran kami agar dapat berpikir dan bertindak sesuai dengan kehendak-Mu, sehingga yang kami lakukan dapat menjadi berkat bagi banyak orang, amin.                                          Giant