Siapakah Sesamaku?

by samuelyasa


Luk. 10: 36-37,” Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? Jawab orang itu: orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya. Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”                                                                   Lukas 10: 36-37

 

Banyak orang mempunyai daftar nama dan alamat/telepon. Daftar itu bisa jadi terdapat dalam buku agenda atau berbentuk buku kecil yang biasanya disusun menurut abjad. Nama siapa yang kita catat disitu? Apakah nama semua orang yang kita kenal? Tentunya tidak. Dari sekian orang yang kita kenal, kita pilih orang-orang tertentu. Mereka adalah sanak keluarga, sahabat dan teman sekerja, mitra usaha, orang yang kita senangi atau orang yang berkepentingan dengan kita. Sikap selektif itu sangatlah wajar. Kita tidak perlu mencatat semua nama. Kita cukup memilih mereka yang berkepentingan dengan kita, atau sebaliknya yaitu mereka yang dengannya kita berkepentingan. Sekali lagi itu wajar. Tetapi, sadarkah kita bahwa orang-orang itu dapat menjadi dunia kita yang sempit? Hanya orang-orang ini yang menjadi cakrawalan pergaulan kita. Hanya orang-orang ini yang menjadi arah perhatian kita. Seolah-olah hanya orang-orang ini sesama kita. Sebenarnya, siapa sesama kita? Banyak budaya zaman dulu yang mempunyai pandangan yang sempit tentang sesama manusia. Dalam budaya itu, sesama manusia terbatas hanya pada orang sebangsa atau seagama. Budaya seperti itu lahir dalam masyarakat yang tertutup. Mereka belum biasa bergaul dengan orang dari bangsa dan agama lain. Mereka merasa aneh melihat orang yang kulitnya, wajah atau busananya berbeda dari mereka. Bagi mereka kulit, wajah dan busana yang berbeda adalah aneh dan asing. Dari situ timbul istilah orang asing. Kata asing bararti aneh atau tidak biasa. Pada hal sebetulnya orang-orang itu tidak aneh. Mereka sama dengan kita. Kesimpulan sesama kita dalam perumpamaan Yesus di atas adalah orang berbelas kasihan kepada orang yang jatuh ditangan perampok itu. Jadi, siapa saja yang berbelas kasihan, tidak dibatasi oleh apapun, hanya rasa kasihan atau tidak. Marilah kita melakukan hukum yang terutama dan yang utama itu: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap jiwamu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Mengasihi sesama manusia bisa diwujudkan dengan memberitakan kabar keselamatan itu sendiri kepadanya. Kita rindu jiwanya tidak binasa. Mengasih tidak dirasakan oleh seseorang jika hanya sebatas  doa saja, tetapi menyentuh hati, jika dinyatakan di dalam perbuatan. Kitalah perpanjangan tangan Allah.                                                    fd