Begitu Berharga Jiwa Bagi-Nya, Bagi Anda?

by samuelyasa


”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.         Lukas 1: 38

 

Pdt. Benny Solihin, mengisahkan pengalamannya selama pelayanan dengan menngatakan bahwa tidak jarang mendengar keluhan gembala sidang tentang sulitnya jemaat untuk ikut terlibat dalam pelayanan. Berbagai alasan dikemukakan, tetapi intinya sama: tidak mau!

Seorang pendeta pernah membuat survei sederhana tentang pelayanan di gereja yang dilayanainya. Salah satu pertanyaan yang dia ajukan adalah “ Apakah alasan utama anda sehingga tidak mau terlibat dalam palayanan gereja?” Jawabannya beragam. Ada yang mengatakan” Saya tidak terbeban sama sekali,” kuliah saya sudah menyita seluruh waktu saya,” “ anak-anak saya masih kecil” “ toko saya buka dari pagi sampai malam” “pekerjaan saya di kantor cukup padat,”” saya sering pergi ke luar kota,” dan ada juga yang mengatakan,” karena tidak tahu menfaatnya buat saya.” Jawaban –jawaban itu, dirasakan cukup mewakili jawaban orang Kristen pada umumnya. Dalam jawaban itu tercermin adanya keengganan yang besar dari anak-anak Tuhan untuk ikut ambil bagian dalam palayanan.  Keengganan itu pasti diperangaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah ketidakfahaman jemaat akan arti pelayanan itu sendiri. Seandainya orang Kristen mengerti arti pelayanan yang Tuhan tawarkan kepada mereka, maka setiap kita akan berkata seperti Maria berkata kepada Malaikat Tuhan,” Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan ; jadilah padaku seperti menurut perkataanmu itu.”

Dari kisah panggilan pelayanan yang Tuhan berikan kepada Maria , kita mengerti bahwa panggilan pelayanan itu, yang pertama: Memang Anugerah Tuhan, dan yang tidak kalah penting adalah panggilan pelayanan itu sendiri sangat berkaitan erat dengan jiwa banyak orang. Maria menyadari bahwa panggilan pelayanannya berkaitan dengan penyelamatan bangsa-bangsa yang barada dalam kegelapan, termasuk bangsanya. Maka, jangankan penolakan yang terjadi, justru ia bersuka cita,. Itu terlihat dalam nyanyiannya di Lukas 1: 46- 55.

Jiwa manusia, jiwa saudara dan saya begitu berharga dihadapan Allah, sehingga Ia merelakan anak-Nya mati di atas kayu salib. Begitu berharga jiwa manusia di hadapan Allah !!! Jadi, pertanyaan yang perlu kita renungkan: Apakah kita juga menghargai jiwa manusia itu, sama dengan Sang Bapa? Kalau berharga, marilah kita memberitakan Injil itu, di mulai dari orang-orang yang paling dekat dengan kita, karena kita tidak mau mereka akan ke tempat penghukuman yang kekal. fd