Jadi Kacung?

by samuelyasa


”yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”           Filipi 2: 6-7

 

Seorang hamba Tuhan menceritakan pengalamannya, sewaktu menjadi pembimbing dalam pelaksanaan sebuah Camp remaja. Pada waktu pelaksanaan Camp itu sedang berlangsung, beberapa anak meminta tolong kepada seorang panitia yang kebetulan bagian perlengkapan. Ada yang minta agar kursi ditempat pelaksanaan Camp diatur, ada yang meminta tolong untuk mengambil barang di kamar peserta dan lain-lain. Mungkin karena capek bercampur dengan dongkol, anak yang sering diminta tolong ini mengatakan,” Memangnya saya kacung?”

“Siapa yang senang kalau harus melayani orang lain?” ujar Plato. Rupanya Plato lebih jujur dari pada kita. Sebab sering kali kita berkata bahwa kita mau melayani orang lain, namun dalam prakteknya kita bersikap: Eh.. enaknya nyuruh-nyuruh, memangnya aku jongos dia?” Melayani orang lain termasuk memberitakan Injil kepada seseorang tidaklah gampang. Harus bersedia menjadi seperti hamba. Tuhan Yesus melakukan hal itu ketika Dia memenangkan atau bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Ia mencuci kaki mereka, setelah mereka masuk ke dalam sebuah rumah (Yoh 13: 1-14). Ia betul-betul menjadi seorang hamba. Dan pada ayat 14 Tuhan Yesus memerintahkan kita agar kita melakukan yang sama kepada orang lain.

Berbicara memberitakan Injil tentu tidak terlepas dengan kata melayani atau menjadi hamba bagi orang yang kita beritakan Injil itu. Kita harus berbesar hati ketika kita ditolak, bahkan dihina. Kita harus menyediakan waktu untuk bertemu dengan dia, pada hal kita sebenarnya kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari kita. Kita karus menyesuaikan waktu kita dengan waktu senggang dia agar kita berkesempatan mendengar dan bercerita tentang Injil itu. Jadi, seolah-olah dia orang penting, kita seperti bawahannya.

Selama kita memiliki hati atau perasaan seperti Bos, sangatlah mungkin kita sulit memenangkan jiwa untuk datang kepada Kristus.

Jadi, sebelum saudara mengambil komitmen untuk memberitakan Injil kepada siapa saja, tolong diperiksa hati anda apakah masih merasa sebagai Bos?  Kalau ada, berdoalah kepada Tuhan Yesus, dengan berkata,” Tuhan, berikan aku hati seperti hati-Mu, mata, seperti mata-Mu, agar aku bisa memenangkan jiwa kepada-Mu.”                                                fd