Mempertaruhkan Nyawa ?

by samuelyasa


”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”                                                                           Lukas 14:26

 

Nyawa seseorang begitu penting bagi dirinya, itulah sebabnya demi mempertahankan nyawanya, bisa saja seseorang melakukan apa saja, misalnya: membunuh, mencuri dan lain-lain. Tidak mengherankan, jika pada hari  Raya Idhul Fitri, ketika daging korban dibagikan, ada orang-orang yang meninggal karena terinjak-injak. Orang yang menginjak, tidak peduli orang lain mati, demi mendapatkan sekilo daging. Bukan karena mati kelaparan. Bahkan ada cerita yang paling miris, daging korban yang diperebutkan tadi dijual untuk memperoleh uang. Menyedihkan bukan?

Sangat kontras dengan Tuhan Yesus. Ia tidak menyayangkan nyawa-Nya, Dia rela mati untuk dosa manusia. Tuhan tidak hanya berkorban secara perasaan ketika Dia ditolak. Ia juga tidak hanya berkorban secara waktu untuk mengajar orang banyak. Juga tidak hanya berkorban sampai luka-luka demi membela manusia berdosa. Tapi, Dia korbankan segalanya; nyawa-Nya di atas kayu salib, demi pengampunan dosa manusia. Itulah sebabnya dikarang sebuah lagu: Bukan dengan barang fana Kau membayar dosaku…..dst.

Ada orang-orang Kristen yang tidak mau bersusah-susah dalam pelayanan, apalagi dalam bermisi. Lebih baik dengan mempersembahkan sejumlah uang, untuk membantu gerakan misi atau penginjilan. Mereka lupa bahwa Tuhan Yesus tidak membayar dengan uang untuk menebus dosa mereka. Ada juga orang Kristen yang mengatakan, “ Ya… saya berdoa saja bagi misionaris yang diutus kepedalaman, sudah cukup.” Mereka lupa bahwa Tuhan Yesus tidak hanya berdoa bagi penebusan dosa mereka. Pada hal, banyak orang disekitar mereka, bahkan family sendiri banyak yang belum percaya.

Ibrani 12: 4, Paulus mengatakan bahwa dalam pergumulan melawan dosa kita belum sampai mencucurkan darah. Baru dalam tahap melawan dosa, manusia sudah mengalah. Apalagi dalam menghadapi rintangan pemberitaan Injil. Bagaimana dengan ancaman orang yang berkepercayaan yang lain, ketika orang Kristen menginjili? Orang Kristen berhentikah memberitakan Injil? Gereja dengan ancaman-ancaman yang ada, berhentikah memberitakan Injil? Yesus mengatakan bahwa jika kita lebih menghargai nyawa kita di banding dengan Kerajaan Allah, kita tidak dapat menjadi murid-Nya.                            fd

 

Iklan