Membenci Keluarga?

by samuelyasa


”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”                                                                           Lukas 14: 26

 

            Jelas, kalau kita membaca bagian firman Tuhan di atas secara harafiah, maka sangat bertentangan dengan bagian firman Tuhan yang lain. Misalnya: Hukum mengasihi. Tuhan Yesus tidak hanya memerintahkan murid-Nya mengasihi keluarganya saja, tetapi juga musuh. Ini termasuk perkataan keras. Jadi, apakah maksudnya? Maksudnya ialah bahwa sama seperti kekayaan bisa menjadi penghalang antara kita dan Kerajaan Allah atau pekerjaan Allah, begitu pula ikatan-ikatan keluarga. Bagi pengikut Tuhan Yesus, minat akan Kerajaan Allah haruslah yang maha-utama. Segala sesuatu harus menjadi yang nomor dua, termasuk ikatan-ikatan keluarga. Kita cenderung menyetujui bahwa ada sesuatu yang keji dalam sikap hidup orang yang mempriaritaskan pencarian yang atas masalah-masalah kehidupan yang lebih mulian dan manusiawi. Pada hal perhatian yang patut kepada keluarga sendiri termasuk dalam masalah hidup yang mulia dan manusiawi.

Tuhan Yesus sendiri mengecam ahli-ahli teologia yang berkeras bahwa orang yang sudah bersumpah untuk memberi kepada Allah sejumlah uang, namun yang kemudian tahu bahwa orang tuanya yang dalam kesulitan bisa ditolong dengan uang itu, tetapi tidak boleh mengurungkan niatnya yang suci yang sudah dikuatkan dengan sumpah itu demi menolong orang tuanya. “Perbuatan seperti itu” kata Tuhan Yesus adalah pelanggaran hukum yang berbunyi: Hormatilah ayahmu dan ibumu ( Mark. 7: 9-13 ).

F.F Bruce menuliskan,” Kita tahu bahwa dalam ungkapan bahasa Alkitab, membenci bisa berarti mengasihi lebih sedikit. Jadi, arti membenci dalam perkataan Tuhan Yesus ini ialah mencintai lebih sedikit (kurang). Dalam Matius 10: 37 mengungkapkan “ Barang siapa mengasihi Bapa atau ibunya lebih adri pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Kita lebih mengerti akan hal ini, ketika melihat kehidupan orang-orang yang rela membujang, demi pelayan kepada Tuhan. Bagaimana mereka betul-betul mengutamakan panggilan hidup mereka kepada Tuhan, dibanding dengan kehidupan mereka itu sendiri (berkeluarga). Sebagai seorang murid yang sejati, marilah kita lebih mengutamakan Tuhan dalam hidup kita. Allah tidak menyayangkan Anak-Nya demi menebus dosa kita.                              fd