SENTRALITAS MISI ALLAH

by samuelyasa


28:16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”                          (Matius)

 

Bila kita mengkaji kembali misi Allah yang dicatatkan dalam nats bacaan kita, maka sesungguhnya siapakah sentral dari misi tersebut. Allah-kah? Atau manusia-kah?  Memang sepintas kita melihat 2 faktor ini memiliki kekuatan perannya masing-masing.

Faktor manusia sebagai sentralitasnya.  Mungkin saja kita menyimpulkan demikian. Manusia sebagai sentralitas obyek kasih Allah. Aalh menciptakan alam semesta dengan segala isinya, tetapi manusia berdosalah yang dijadikan sasaran kasih-Nya agar menikmati persekutuan dengan-Nya yang selama ini telah rusak karena dosa yang memisahkan.  Atau, manusia sebagai sentralitas pelaksana misi kasih Allah. Apakah tidak cukup mengherankan bila manusia yang penuh keterbatasan bahkan kelemahan ini dipercayakan untuk melaksanakan misi kudus Allah. Mengapa IA tidak mengutus para malaikat-Nya untuk menobatkan dunia yang berdosa. Seolah-2 keberhasilan misi ini diletakkan dalam diri manusia sebagai pelaksananya.

Yesus sebagai sentralitas misi Allah. Simaklah ayat2 tersebut, maka kita akan menemukan bahwa Yesuslah yang memberi mandate; agar semua bangsa menjadi murid Yesus; kehidupan dan pengajaran Yesus menjadi rujukan sehingga mereka melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Yesus pulalah yang memberikan kuasa dan penyertaan dalam pelaksanaan tugas tersebut, sehingga keberhasilan tugas ini ditentukan oleh karya-Nya sendiri. Bukan karena kita. Setuju?    jp

Iklan