DIDERA NAMUN TAK JERA (2 Korintus 6:4-10)

by samuelyasa


Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.                                                           (2Kor. 6:10)

 

 

Sebelum menjadi pengikut Kristus boleh dibilang jika hidup Paulus jauh dari penderitaan. Bahkan ia sendiri yang menjadi sumber penderitaan bagi anak-anak Tuhan. Ia pergi dari satu kota ke kota lain untuk mengejar, menganiaya dan membunuh anak-anak Tuhan.  Namun, kehidupan Paulus berubah seratus delapan puluh derajat. Jika dahulu ia membuat hidup anak-anak Tuhan menderita dan merana, sekarang hidupnya juga berada dalam penderitaan karena statusnya sebagai hamba Kristus Yesus.  Kerap kali ia menerima perlakuan “yang tidak mengenakkan” dirinya dan dalam bagian yang kita renungkan bersama pada hari ini, kita menjumpainya, seperti: berada di dalam penjara dan kerusuhan, dihina, diumpat, dianggap sebagai penipu, nyaris kehilangan nyawanya, dihajar, dukacita, miskin dan tidak memiliki segala sesuatu.

Melihat begitu banyak daftar perlakuan “yang tidak mengenakkan” ini wajar apabila Paulus meninggalkan pelayanan dan Tuhan yang ia layani.  Wajar bagi Paulus untuk nggondok (baca: ngambek).  Namun, apakah perlakuan “yang tidak mengenakkan” Paulus itu membuatnya nggondok? Ternyata tidak. Coba kita perhatikan dalam rangkaian paradoks yang terdapat dalam ayat delapan bagian akhir hingga ayat sepuluh.  Setelah kita memperhatikannya dengan cermat, maka kita akan menjumpai ada tujuh rangkaian paradoks (ketika/sebagai … , namun …) dalam bagian ini.  Dari tujuh rangkaian paradoks yang ada, kita menjumpai bahwa Paulus tidak sedang berpikir untuk nggondok atau meninggalkan pelayanan, mengapa demikian?  Karena tujuh rangkaian paradoks ini dimulai dengan hal yang negatif, namun disanggah dengan hal positif. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus memiliki perspektif yang berbeda dalam mengikut Tuhan. Paulus tahu bahwa dalam mengikut Tuhan, ia harus berani membayar harga dan ketika ia berani membayar harga, ia melihat kemuliaan dan kecukupan Kristus didalam penderitaan dan perlakuan “yang tidak mengenakkan” yang menimpanya.

Sebagai seorang pengikut Kristus, ada kalanya perlakuan yang tidak mengenakkan itu menimpa kita. Namun, sudahkah kita melihat bahwa itulah harga yang harus dibayar ketika kita mengikut Kristus. Maukah kita membayar harga bagi-Nya? Kiranya Tuhan memampukan kita sekalian.  Amin.                                                                                                           cu