DISESAH NAMUN TAK RESAH (Matius 14:1-12)

by samuelyasa


Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.                                                          (Mat. 14:3)

 

 

Sungguh luar biasa, apa yang dilakukan oleh Yohanes pembaptis dalam bagian ini. Setelah kita membaca dan akan merenungkannya bersama, kita mendapati bahwa ia, Yohanes pembaptis, menegur dengan tegas kesalahan yang dilakukan oleh Herodes Antipas. Sebagai seorang penguasa, Herodes Antipas melakukan sebuah tindakan yang tidak bermoral. Ia menikah dengan istri saudaranya, yaitu Filipus I.  Tentu saja tindakan ini tidak bisa didiamkan. Melihat penyimpangan ini, maka Yohanes pembaptis menegurnya.  Setelah ditegur, bukannya bertobat malah Yohanes pembaptis dimasukkan ke dalam penjara. Ketika berada dalam penjara inilah Yohanes pembaptis merasa ragu mengenai keberadaan Mesias yang ia layani.  Oleh karena itu, ia menyuruh muridnya untuk mencari konfirmasi dan akhirnya ia mendapatkan konfirmasi itu.  Setelah itu, kita mendapati baha Yohanes pembatis tidak memiliki keraguan dalam kehidupannya.

Pada suatu hari, setelah putri dari Herodias menari dan menawan hati Herodes Antipas, maka ia [Herodes Antipas] berjanji 8untuk memberikan segala hal yang dia inginkan. Untuk hal ini, putri Herodias menghasut ibunya untuk membunuh Yohanes pembaptis.  Ia meminta kepala Yohanes pembaptis sebagai hadiahnya dan permintaan yang “tidak wajar” inipun disampaikan kepada Herodes Antipas.  Karena sudah terlanjur berjanji di depan tamu-tamunya, maka Herodes Antipas tidak dapat mengingkarinya.  Oleh karena itu, Herodes Atipas memerintahkan pegawai istana untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Setelah dipenggal, dibawanyalah kepala itu ke istana.

Sebelum peristiwa pemenggalan itu, Alkitab tidak mencatat bahwa ada rasa perasaan resah dan gelisah dalam diri Yohanes.  Mengapa demikian? Pertama, karena ia sudah mendapatkan konfirmasi bahwa Mesias yang ia layani sudah datang dan ia adalah Yesus. Kedua, karena ia tahu bahwa ada harga yang harus dibayar di dalam hidup pelayanannya.  Melalui renungan kita pada hari ini, kita sekali lagi diingatkan akan dua hal. Pertama, sudakah kita mengenal siapa yang kita layani, sebagaimana Yohanes yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang ia layani? Kedua, sudahkah kita berani membayar harga atas pelayanan kita?  Biarlah Tuhan yang membantu dan memampukan kita semua agar hidup dan pelayanan kita seperti halnya Yohanes pembaptis.  Amin.                                                cu