REALITA KEHIDUPAN KOMUNITAS (2)

by samuelyasa


46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.                               (Kisah Para Rasul)

Pada tahun 1977 saya mengikuti orangtua yang dipindahtugaskan dari Semarang menuju Banjarmasin dan Palangka Raya. Saat itu menjadi saat yang menyedihkan bagi saya karena berpisah dengan teman-2 bermain sesama anak-2 di komplek tentara. Rasanya begitu berat meninggalkan sebuah komunitas di mana saya bertumbuh, bermain dan membangun kebiasaan-2 sebagai seorang anak. Namun ternyata kesedihan itu tidak bertahan lama, karena di lingkungan baru saya menemukan teman-2 yang lain. Di sekolah yang mayoritas dari suku Dayak saya membangun hubungan pertemanan dan ternyata ada keasyikan yang lain. Seri pertualangan hidup yang lain (baru) diperkayakan dalam hidup saya.

Dari kisah di atas, poin yang ingin saya sampaikan adalah adanya masa transisi yang harus kita lewati ketika kita harus meninggalkan komunitas yang satu dan memasuki komunitas yang baru. Dan sesungguhnya ini tidak mudah karena kita pasti membandingkan keduanya dan menimbang ulang manfaat kehidupan yang kita terima. Kedua, sesuatu yang lama dan kita anggap telah membentuk kita rasanya sulit untuk ditinggalkan, tetapi mau tidak mau harus kita tinggalkan dan memasuki pola kehidupan komunitas yang baru. Menjadi seorang Kristen berarti mengalami masa transisi ini. Meninggalkan komunitas dunia dan menjadi bagian komunitas Allah.

Realita pergumulan secara pribadi untuk memasuki sebuah komunitas Allah tidaklah mudah, apalagi kalau kita berharap sesuai dengan standart pribadi kita. Itulah sebabnya komunitas Allah harus menjadi komunitas yang hangat dan menjadi sahabat utk menjangkau.   Jp