REALITA KEHIDUPAN KOMUNITAS (1)

by samuelyasa


46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.                               (Kisah Para Rasul)

Bacaan yang terambil dari Kisah Para Rasul 2:41-47 ini seolah-olah dapat disebuat sebagai ayat-2 terbanyak untuk menjelaskan tentang kehidupan gerejawi dan sering kali dijadikan model. Setelah membaca berkali-kali dan coba merenungkan bacaan tersebut maka terbersit sebuah pertanyaan, seideal itukah kehidupan bergereja atau berkomunita? Semudah itukah untuk mewujudkannya? Tentu saja ada berbagai kemungkinan untuk menjelaskannya, misalnya:

  •  Tanpa harus menyangkali kebenaran berita dalam Kisah Para Rasul namun bukan berarti kehidupan komunitas yang ada tanpa menghadapi kesulitan dan pergumulan interaksi.
  •  Atau, situasi dan kondisi yang sulit justru membuat mereka yang terlibat dalam komunitas merasakan kehidupan sependeritaan dan sepenanggungan yang membuat mereka memiliki kehidupan komunitas yang ideal sebagaimana yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul ini.

Tentu saja kondisi seperti inilah yang kita idamkan, kehidupan komunitas di mana proses “saling” dapat terjadi dengan baik. Dengan demikian komunitas sendiri sebagai tempat seseorang mengalami proses pertumbuhan dan dibentuk menjadi pribadi kristiani yang dewasa. Jujur saja, seringkali kita temukan banyak orang Kristen yang tidak tahan untuk masuk dalam komunitas seperti. Bila hal itu terjadi maka kesalahan ditimpakan kepada siapa? Apakah kepada komunitas yang dianggap tidak kondusif atau kepada pribadi Kristen yang egois dan individualis?  jp