MENEMBUS “TEMBOK” YANG KERAS

by samuelyasa


15 ……Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Lukas 13:10-17
Bagi orang Yahudi, tradisi nenek moyang merupakan sesuatu yang sakral dan penting untuk diamalkan. Bahkan sampai-sampai aturan yang mereka buat bisa mengabaikan perbuatan-perbuatan nyata, misalnya menolong orang pada hari sabat. Hal inilah yang dialami Tuhan Yesus ketika ia melayani di tengah-tengah bangsa Yahudi. Tuhan Yesus pernah diprotes oleh Ahli Taurat dan Orang Farisi karena murid-murid-Nya memetik gandum pada hari sabat; ketika murid-murid-Nya tidak mencuci tangan sebelum makan, dan bahkan Tuhan Yesus sendiri ketika Ia menyembuhkan orang pada hari sabat. Mengapa adat-istiadat orang Yahudi dianggap begitu penting bagi mereka? Ya, karena hal itu sudah mereka lakukan secara turun temurun. Sudah menjadi sebuah kebiasaan, sehingga semua itu dianggap sebuah “kebenaran” yang tidak boleh dilanggar. Kalau boleh saya katakan, hal tersebut sudah seperti “tembok” yang sulit untuk ditembus.
Sadar atau tidak, pada zaman sekarang ini gereja juga memiliki kebiasaan yang sudah dilakukan dari generasi ke generasi, sehingga sangat sulit untuk dirubah dan seolah sudah menjadi “kebenaran” yang tidak boleh dilanggar. Maka tidak heran jika ada generasi muda yang ingin memodivikasi sedikit hal baru dalam gereja, sering dipertanyakan dan bahkan ditentang, padahal tidak melanggar firman Tuhan.
Kita harus belajar dari Tuhan Yesus yang berani membuat hal baru serta mampu menembus tradisi atau kebiasaan yg selama ini dianggap tabu oleh orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Bagi Tuhan Yesus, yang penting ialah kebenaran Allah dinyatakan dan jiwa seseorang diselamatkan. Jangan takut menembus “tembok” keras, kalau hal itu bisa membawa jiwa seseorang kepada Tuhan Yesus. Mari kita menanamkan pemahaman ini dalam diri kita: SATU JIWA LEBIH PENTING DARI PADA SEBUAH TRADISI YG TIDAK BISA MEMENANGKAN JIWA. Kvn