ANGKUH :CIRI MANUSIA ZAMAN AKHIR?

by samuelyasa


“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri
2 Timotius 3:2a

Wayne D Calloway, seorang CEO dari PepsiCo mengatakan bahwa kesombongan merupakan alasan utama yang menjadi sebab kegagalan seorang manajer untuk meningkat kepada potensi yang seharusnya dapat dia capai.Kesombongan adalah sikap yang memandang rendah, atau mengecilkan usaha, pemikiran atau apa saja yang dicapai orang lain, kemudian timbul kecenderungan untuk membandingkan usaha orang lain dengan sisi keberhasilan yang dia capai, tetapi menutupi kekurangan diri sendiri. Perasaan lebih tinggi ini akan menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mendengar pandangan luar, sehingga bila berlarut wawasan pun menjadi sempit. Murid-murid Yesus pun sempat juga mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. Menyadari kesalahan ini, maka pada waktu Yesus menanyakan pembicaraan mereka, semua terdiam, lalu Yesus berkata: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:33-37) . Masih belum sadar dengan pelajaran ini, bandingkan dengan pembicaraan didalam Markus 10:35-45, sekarang 2 orang murid malahan ingin menduduki tempat yang terutama di Surga. Kalau tadi mencari siapa yang terbesar didunia, sekarang siapa yang terbesar di akhirat. Murid yang lain marah, suatu reaksi normal terhadap orang yang sombong, bukan karena mereka tidak sombong, tetapi biasanya reaksi ini juga didasari oleh sikap yang sama sombongnya, karena merasa kedudukan yang layak untuk dia malah telah diminta oleh orang lain. Paulus dalam banyak hal juga bergumul banyak tentang keangkuhan hidup, “sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat (Rm. 7:15). Sesungguhnya yang pasti, Tuhan menolak keangkuhan dan lebih menuntut hidup kita lebih rendah hati. Dan bukan hanya itu saja setiap orang percaya dituntut menyadari dan mengenali keterbatasan kita masing-masing dalam terang kasih karunia Allah (Rm. 12:3).(ant).

DOA: Bapa mampukanku menerima keterbatasanku dalam anugerahMu.