NARSIS : CIRI MANUSIA ZAMAN AKHIR?

by samuelyasa


“Manusia akan mencintai dirinya sendiri…” 2 Timotius3:2a

Asal mula istilah Narsis.Konsep dan istilah narsisisme atau narsisistik berawal dari mitologi Yunani kuno tentang seorang pemuda tampan yang bernama Narsisus.Pada suatu hari, Narsisus melewati sebuah danau yang sangat bening airnya dan melihat pantulan dirinya sendiri.Narsisus sangat mengagumi dan jatuh cinta pada pantulan itu.Narsisus sangat ingin menjamah dan memiliki wajah yang dilihatnya, tapi setiap kali mengulurkan tangannya untuk meraih pantulan itu, bayangan itu kemudian menghilang.Narsisus tetap menunggu di tepi danau untuk mendapatkan bayangan yang menjadi obyek kekagumannya sampai mau menceburkan dirinya sendiri ke dalam danau dan akhirnya mati.Mitologi ini digunakan dalam Psikologi pertama kalinya oleh Sigmund Freud (1856-1939) untuk menggambarkan individu-individu yang menunjukkan cinta diri yang berlebihan.Saking cintanya pada diri sendiri, sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, serta benda atau orang-orang yang masih ada hubungan dengannya. Sebaliknya, orang atau kelompok lain yang tidak menjadi bagiannya senatiasa dianggap tidak nyata, inferior, tidak memiliki arti, dan karenanya tidak perlu dihiraukan. Ketika yang lain itu dianggap sebagai ancaman, apa pun bisa dilakukan, melalui agresi sekalipun. Bahkan menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) narsis dimasukkan dalam gangguan kepribadian dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain. Lalu apa yang terjadi dengan gereja jika dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian semacam ini? Paulus menyinggung hal ini dalam rangka mengingatkan kepada gereja yang hidup pada zaman akhir semakin tidak mudah. Komunitas orang narsi bukan hanya berada diluar gereja, tetapi orang percaya yang masih hidup dalam pertentangan daging dan roh pun akan juga bisa jatuh dalam godaan narsis. Ini berarti gereja harus menjaga dan menjalankan perannya dengan sungguh hati sebagai garam dan terang. Amsal 27:2 katakan, Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri. Setiap orang percaya yang adalah bait suci-Nya mengamini bahwa apa yang dilakukan dan dikerjakan bukan untuk pujian diri.(ant).