Rindu Akan Rumah-Mu (2)

by samuelyasa


5Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. 6Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 7 —sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat—8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.                                                     2 Korintus 5:5-8

Dalam renungan kemarin kita melihat bahwa salah satu kerinduan Paulus akan kehidupan Surgawi adalah karena di dalam Surga ia bisa mengalami hidup dalam kekudusan, tidak lagi dalam keberdosaan. Dalam renungan hari ini kita melihat alasan lain dari Paulus mengapai ia begitu ingin ke Surga, yakni supaya ia bisa bersama-sama dengan Tuhan.

Paulus tahu, selama ia masih hidup di dunia ini, itu artinya ia masih jauh dari Tuhan (ay. 6). Pernyataan Paulus ini bukan berarti bahwa ketika kita hidup di dalam dunia kita tidak bisa memiliki relasi dengan Tuhan. Yang menjadi masalah adalah tempat di mana kita berada. Memang sekalipun kita masih hidup di dalam dunia, kita bisa memiliki dan membangun relasi pribadi dengan Tuhan, namun persekutuan ini bersifat terbatas. Keterbatasan itu terjadi oleh karena kita masih hidup dalam kedagingan kita. Kita masih jatuh dalam dosa dan dosa menjadi penghalang relasi kita dengan Tuhan. Sebaliknya jika orang percaya telah dipanggil pulang ke rumah Bapa di Sorga, maka persekutuan yang jauh lebih intim dengan Tuhan akan terjadi. Inilah yang jadi kerinduan Paulus.

Jadi bagi Paulus, mati maupun hidup sama-sama baik. Jika ia mati, sungguh sesuatu yang indah baginya karena ia bisa masuk dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan. Namun kalaupun ia masih harus hidup di dunia ini di dalam segala kesulitan dan penderitaannya, ia tetap memiliki pengharapan akan kehidupan kekal dan pengharapan inilah yang membuatnya terus bertahan dan setia kepada Tuhan.  (Filipi 1:21-22).

Bagaimana dengan kita? Adakah kita bisa melihat bahwa kehidupan saat ini yang kita jalani adalah anugerah dari Tuhan yang seharusnya kita jalani dengan iman dan pengharapan akan kehidupan bersama dengan Tuhan nantinya? Dan janganlah takut akan kematian, itu adalah awal untu kita memiliki persekutuan yang sesungguhnya dengan Tuhan. Amin.

Nix’z