Rumah Abadi Yang Tak Tergoyahkan

by samuelyasa


Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

For we know that if the tent that is our earthly home is destroyed, we have a building from God, a house not made with hands, eternal in heavens. (English Standard Version)                                    2 Korintus 5:1

Kehidupan manusia bisa digambarkan sebagai kehidupan  yang sangat rentan. Manusia tidak memiliki kuasa apa pun terhadap kehidupannya. Kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menghampiri kita. Banyak orang mengutamakan hidup di dunia ini dan mengejar panjang umur. Paulus punya pandangan lain. Di ayat 8, kita bisa melihat bahwa Paulus ternyata lebih suka jika mengalami kematian. Mengapa demikian? Sebab Paulus tahu bahwa kehidupan di dunia ini bagaikan hidup dalam kemah belaka, akan tetapi kehidupan sesudah kematian yang disediakan oleh Allah adalah kehidupan dalam sebuah building, bangunan.

Sebagai seorang pembuat kemah, Paulus mencoba menggambarkan  tubuh manusia sebagai sebuah kemah.  Kemah diperlukan untuk berlindung, untuk menginap, tapi tentunya hanya untuk sementara waktu. Kemah itu menggambarkan sesuatu yang sifatnya sementara, yang bisa dibongkar kapan saja atau bahkan bisa roboh ketika menghadapi terpaan angin yang begitu keras, dan juga karena kemah itu begitu rentan, mudah rusak dan sobek. Dibandingkan dengan sebuah kemah, maka sebuah building/bangunan sifatnya jauh lebih kokoh, lebih tidak tergoyahkan. Inilah perbedaan kualitas antara kehidupan di dunia dan di dalam kekekalan yang ingin digambarkan oleh Paulus, terlebih ia juga menambahkan bahwa kehidupan dalam kekekalan itu bagaikan hidup dalam sebuah bangunan yang bukan dibuat oleh tangan manusia, melainkan oleh Allah. Hidup dalam kekekalan merupakan kehidupan yang luar biasa, kita akan merasakan aman dan sejahtera, damai terlindungi.

Sayangnya manusia lebih memperhatikan kehidupan di dunia ini. Banyak orang menginvestasikan waktu dan hidup mereka untuk mencari kenyamaan dan kekayaan duniawi, namun tidak memberikan waktu mereka untuk hidup dalam kekekalan. Ada di manakah posisi kita saat ini? Hidup untuk hidup saat ini atau hidup saat ini untuk mempersiapkan diri untuk hidup dalam kekekalan?                                                                    Nix’z