HIDUP KEKAL. SUNGGUH ADA?

by samuelyasa


Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”           Yohanes 20:25

 

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”                                                                           Yohanes 20:29

 

Banyak komentar yang ditujukan kepada Tomas sebagai representative orang yang skeptic. Yang biasanya berpikiran kritis dan selalu mempertanyakan segala sesuatu, yang kemudian dicerna dan diterimanya sebagai sebuah kebenaran.  Kebutuhan-2 terhadap pembuktian menjadi sangat penting, dan tidak bersedia menerima sesuatu apabila hal tersebut tidak dapat dibuktikan.

Dengan jelas Tomas mengatakan bahwa ia tidak akan percaya bila tidak melihat dan menyentuh (meraba) dengan mata dan tangannya sendiri. Dengan kata lain, kepercayaan yang didasarkan pada pembuktian baginya adalah penting. Ia menempatkan indera kemanusiaannya sebagai tolok ukur terhadap tingkat kepercayaannya.  Memang cara berpikir demikian adalah sangat manusia dan kita memiliki tendensi melakukan hal ini dalam banyak hal di kehidupan kita. Bukti itu penting dan sekali lagi hal ini manusiawi. Namun Yesus mengatakan hal yang Illahi (bukan manusiawi) bila kita percaya sekalipun tidak melihat. Karena memang hal iman dan menjadi percaya kepada Tuhan adalah karya-Nya, karya Allah sendiri, dan bila manusia menjadi percaya itu semata-mata karena-Nya.

Demikian halnya dengan hidup kekal, yang diawali dengan percaya kepada YesusKristus sebagai Tuhan dan Juruselamat sampai kita hidup bersama-Nya di rumah Bapa di Sorga, tentu saja melewati kematian secara fisik. Kematian fisik yang berarti indera manusia sudah tidak berfungsi, apalagi melakukan sebuah pembuktian.  Bagi manusia (yang berdosa) adalah wajar bila tidak mau menerima bahwa hidup kekal itu sungguh ada, karena mereka tidak dapat membuktikannya.

Berbahagialah anda yang mempercayai bahwa hidup kekal itu bukan sekedar janji Tuhan melainkan sungguh ada karena itulah iman kita.