TELADAN PENGAMPUNAN YUSUF TERHADAP SAUDARA-SAUDARANYA

by samuelyasa


Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.” Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.                                                              Kejadian 50:15-21

 

Siapa yg tidak mengenal tokoh Yusuf dlm Perjanjian Lama? Ia  adalah anak kesayangan ayahnya, yg begitu disayang & di istimewakan shg menimbulkan iri hati dari saudara2-nya yg lain. Ia kemudian harus diperlakukan dg kejam oleh saudara2-nya, di jual ke Mesir sbg budak & sempat dipenjarakan. Sebenarnya, ia pantas  marah & membalas dendam kpd saudara2-nya sendiri yg telah jahat kepadanya. Tetapi ia tidak melakukan aksi balas dendam, sebaliknya ia mengampuni  semua perbuatan saudara2-nya. Teladan pengampunan Yusuf membuat kita belajar melepaskan kepahitan-2 yg terjadi dlm kehidupan kita.

Ketika masalah terjadi di tengah2 keluarga, bagaimana kita menanggapinya? Apakah dg  amarah & emosi? Berbeda dg Yusuf yg menanggapinya dg pengampunan. Alkitab senantiasa mengajarkan  bahwa kita harus menanggapinya dengan rendah hati, lemah lembut, & sabar.

Yusuf adalah manusia biasa yang tidak pula luput dari amarah dan emosi. Namun, ia memilih untuk mengasihi saudara-saudaranya, ia lebih memilih kedamaian yang Tuhan mau ia lakukan bagi saudara-saudaranya. Dengan demikian kita dapat melihat teladan dari pengampunan dan ketaatan Yusuf.