Pengampunan ditumbuhkan dlm Keluarga

by samuelyasa


Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. . . . Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. . . Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.                                      Efesus 5:22-33

Pengampunan adalah sebuah tindakan yg pertama2 harus ditumbuh kembangkan di dlm keluarga, yaitu di dlm relasi antar  anggota keluarga: suami-istri, orangtua-anak, adik-kakak. Keluarga adalah tempat pertama dimana interaksi atau perjumpaan antara sesama manusia mengambil bentuknya yg paling intens, paling ”dalam”, karena itu kemungkinan terjadinya berbagai macam benturan dlm relasi antar sesama juga akan mengambil tempatnya pertama2 di dalam keluarga.

Orang bijak berkata: ”Selama pintu maaf masih terbuka, selama itu pula hidup bersama akan berlangsung; sebaliknya bila pintu maaf sudah tertutup maka hidup bersama akan berakhir”. Perkataan ini benar. Ketika orang tidak mau lagi  mengampuni berarti dia sudah menutup pintu hatinya utk kehadiran orang lain dlm hidupnya & konsekuensinya dia tidak lagi mau membangun hidup bersama dg orang lain. Hal ini paling kongkrit bisa terjadi dlm relasi antara suami-istri. Cukup banyak kisah yg menceritakan pasangan suami-istri akhirnya berpisah & bahkan dlm kasus yg berat akhirnya mereka mengambil kesepakatan utk mengakhiri hubungan yg sudah dijalani bersama dlm suatu waktu. Mengapa orang tidak mau mengampuni orang lain bahkan orang yg selama ini mereka cintai: istri, suami atau anak-anak sendiri? Jawabnya sangat sederhana: cinta telah berubah menjadi benci; antara cinta & benci perbedaannya sangat tipis & kenyataan menunjukkan kpd kita bahwa orang yg paling membenci seseorang adalah orang yg paling mencintai sebelumnya. Suami atau istri yg sebelumnya demikian mencintai pasangannya bisa saja berubah menjadi orang yg demikian membenci pasangannya. Karena itulah utk mengurangi atau menghilangkan rasa benci yg sering muncul akibat kesalahan2 kecil tetapi yg sifatnya berulang2, usaha & kesediaan utk  saling memaafkan & memberi maaf adalah ”obat” manjur utk memulihkan relasi pd situasi yg normal.

Firman Tuhan di atas dg  jelas menggambarkan ttg kasih Kristus sbg dasar hidup suami istri, dan kembali mengingatkan  kita utk hidup saling menghargai & mengasihi dlm keluarga. Sbg anak2 Tuhan sudah seharusnya kita mengasihi dg memberikan pengampunan. GBU