Istri Sebagai Penolong Suami

by samuelyasa


TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”                                                                         

Kejadian 2: 18

 

Penempatan seorang wanita di sisi seorang pria bukanlah tanpa sebuah tujuan.  Alkitab dengan jelas menuliskan bahwa tujuan penciptaan seorang wanita adalah menjadi penolong bagi seorang pria.  Menjadi seorang penolong bagi seorang pria adalah rancangan besar yang ditetapkan oleh Tuhan bagi wanita. Menolong seorang pria supaya ia berperan dengan maksimal sebagai seorang pengajar dalam keluarga.  Apa yang harus dilakukan oleh seorang wanita untuk bisa menjadi seorang penolong yang sepadan bagi suaminya? Dari renungan-renungan di atas saya menjelaskan bagaimana nilai-nilai apa yang harus ditransfer kepada anak-anaknya dan apa yang harus dikerjakan oleh seorang pria untuk bisa menjadi seorang pentransfer nilai dalam keluarga.

 

Melihat akan pentingnya peranan ini maka sesungguhnya seorang wanita haruslah ia melakukannya dengan bersungguh-sungguh di hadapan Tuhan.  Seorang suami adalah seorang yang banyak melakukan kegiatannya di luar rumah.  Ia adalah seorang pencari nafkah yang sebagian besar waktunya dihabiskan di lingkungan pekerjaannya.  Dalam situasi seperti inilah peranan seorang istri menjadi sangat signifikan di dalam keluarga.  Paling tidak 8 jam anak-anak tidak bertemu dengan bapak mereka tetapi 8 jam itu mereka akan bertemu dengan ibu mereka.  Di waktu inilah seorang istri berperan sangat maksimal.  Ia haruslah memperhatikan dan mengajari bagaimana nilai-nilai yang telah diajarkan oleh suaminya kepada anak-anak mereka. Ia harus menjadi seorang yang mengingatkan anak-anaknya apabila mereka melakukan lalai menerapkan nilai-nilai tersebut dalam hidup anak-anaknya.

 

Tetapi yang perlu diingat di sini adalah wanita bukanlah orang yang akan memutuskan untuk mengajarkan apa kepada anak-anaknya.  Ia harus mendiskusikan semuanya kepada suami sebagai kepala keluarga.  Ia harus mendiskusikannya dengan suami sang punggung keluarga.  Ingatlah seorang wanita punya peran penting dalam keluarga tetapi ia bukanlah seorang pengambil keputusan.  Ia adalah seorang penolong yang Tuhan tempatkan di sisi suaminya agar ia berperan maksimal sebagai kepala keluarga.  Amin.                                                                       Jho