Seorang Bapa Sebagai Pengajar (4) : Memperkatakan Firman

by samuelyasa


Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

Yosua 1: 8

 

Teks ini adalah kisah tentang panggilan bagi Yosua untuk menggantikan Musa memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan.  sebagai seorang pemimpin bangsa yang besr, Yosua diingatkan untuk terus memperkatakan Taurat dan merenungkannya siang dan malam.  Sebagai pemimpin ia diingatkan agar ia sendiri tidak gegabah sehingga ia pun akan dimampukan untuk memimpin bangsa yang terkenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk itu untuk masuk ke tanah Kanaan. kata “memperkatakan” dan “renungkanlah” mengandung makna melakukan terus menerus. Bukan kalau sempat atau kalau ingat.  Memperkatakan Taurat bukan saja memperkatakan pada saat seseorang melakukan kesalahan sebagai perwujudan pendisiplinan tetapi sebagai bentuk pengajaran yang dilakukan secara terus menerus. Memperkatakan Taurat saama seperti apa yang tertulis dalam Taurat bukan sembarangan mengucapkan karena Tuhan akan menghukum orang yang menambah atau mengurangi Taurat Tuhan.

 

Ingatkah kita bagian Yakobus 3? Penulis menjabarkan tentang betapa luar biasanya lidah manusia.  Lidah bisa membuat orang bergairah dalam menjalani hidup sekaligus menjatuhkan seseorang.  Dalam keluarga juga demikian. Sadar atau tidak perkataan yang kita ucapkan untuk anak kita akan membentuk anak kita.  Ketika kita mempergunakan kata-kata yang membangun maka anak kita akan menjadi anak yang memiliki pengenalan yang diri yang baik. Akan tetapi, ketika kita melakukan hal sebaliknya maka kita akan membuatnya mengalami distorsi pengenalan diri.  Anak-anak yang setiap hari mendengarkan kata-kata yang positif, sisi emosionalnya akan bertumbuh dengan baik demikian juga sebaliknya.  rasul Paulus dalam Efesus 4: 29 mengajak manusia baru dalam Tuhan untuk menjaga lidah dengan selalu memperkatakan perkataan yang membangun bukan perkataan kotor. Bayangkanlah apa yang akan terjadi apabila sebagai imam dalam keluarga, perkataan yang kita keluarkan adalah perkataan kotor? Bayangkan pula apa yang akan terjadi pada anak-anak kita ketika sejak kecil ia telah mendengarkan bapaknya memperkatakan perkataan kotor setiap hari.  Mari bangun anak dan istrimu dengan perkataan yang membangun.  Perkatakan firman setiap hari.                                             Jho