Seorang Bapak sebagai Pengajar (3): Mempraktekkan Firman

by samuelyasa


Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.                                                               

1 Timotius 4: 12

 

Hal ketiga yang harus dilakukan oleh seorang bapa sebagai pengajar adalah keteladanan hidup. Timotius adalah anak rohani rasul Paulus yang diutus oleh rasul Paulus untuk menggembalakan jemaat yang ada di Efesus.  Dalam bagian ini rasul Paulus mengingatkan Timotius supaya ia menjadi teladan bagi jemaat yang digembalakannya.  Keteladanan itu harus diperlihatkan melalui tingkah laku, perkataan, kasih, kesetiaan dan kesucian. Dengan adanya keteladanan ini maka sesungguhnya jemaat pun akan lebih mudah untuk menerima apa yang diajarkan oleh bapa rohani mereka.  Rasul Paulus sendiri telah menjadi teladan bagi jemaat yang dilayaninya di Filipi (Fil. 3: 17).

 

Sebagai seorang bapa dalam keluarga maka sesungguhnya kita adalah imam bagi seisi rumah kita.  Pada suatu kali, ada seorang pendeta yang berkhotbah tentang bagaimana mengasihi.  Pendeta tersebut berkhotbah dengan penuh semangat.  Semua jemaat terberkati dengan khotbah tersebut.  Akan tetapi, istri sang pendeta pulang dengan wajah yang terlihat sedih.  Dalam hatinya ia bertanya, “Mengapa suamiku tidak bisa mempraktekkan apa yang dikhotbahkannya?”  Istri sang pendeta pulang dengan tidak membawa berkat.

 

Sebagai imam dalam keluarga maka kita memegang peranan yang cukup penting.  Apa yang kita katakan dan lakukan itu menjadi perhatian bagi anak dan istri kita.  Bagaimana mungkin anak kita tidak berkata bohong kalau setiap hari ia mendengarkan bapanya berbohong. Bagaimana anak kita bisa menghargai pramuwisma kita jika ia melihat bapanya sendiri memperlakukan pramuwisma tersebut dengan tidak baik?

 

Kita bisa menjadi seorang bapa yang mengajarkan hal-hal yang baik kepada anak-anak kita tetapi sekali lagi mereka tidak perlu kata-kata dari kita.  Mereka hanya perlu melihat apakah kita melakukan apa yang kita katakan? Anak-anak kita menantikan kita mempraktekkan apa yang kita ajarkan kepada mereka.  Jangan main-main karena akibatnya fatal.      Jho