Keluarga Sebagai Wadah Transfer Nilai

by samuelyasa


“Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.

Ulangan 6: 1-2

Perintah ini diberikan Tuhan kepada orang Israel ketika mereka sedang dalam perjalanan kembali ke tanah Kanaan.  Perintah ini mengajak para orang tua untuk melakukan pengajaran kepada anak-anak mereka.  Pola pengajaran yang diterapkan dalam keluarga-keluarga bangsa Israel adalah pola pengajaran yang dimulai pertama sekali di dalam keluarga. Pengajaran dalam keluarga ini dilakukan dari anak berusia 0-12 tahun.  Dalam proses pengajaran di keluarga ini dititikberatkan pada laki-laki.  Dari bahasa aslinya dan bahasa mandarin kata ganti yang dipaakai adalah kata ganti untuk laki-laki. Mungkin kita bertanya kenapa hanya laki-laki saja? Bangsa Israel menganut sistem patriakal di mana pria mendapatkan diberikan tanggung jawab ekstra oleh Tuhan untuk membawa keluarganya datang pada Tuhan.  Seorang laki-laki bertindak sebagai seorang imam yang mengajarkan segala sesuatu yang diperlukan oleh anak-anaknya di dalam mengiring Tuhan.

 

Kalau kita memperhatikan keadaan keluarga-keluarga di sekitar kita maka kita akan mendapati terjadinya pergeseran peran.  Kita menemukan begitu banyak keluarga di mana pria tidak lagi melaksanakan perannya dengan maksimal dalam keluarga.  Para pria melarikan diri dari tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada mereka.  Mereka tidak menjadi seorang imam  bagi istri dan anak-anaknya.  Pria cenderung mencemplungkan diri ke dalam kegiatan yang memuaskan keinginan hatinya.  Pada kesempatan ini saya ingin kembali para pria untuk memikirkan peran besar yang Tuhan percayakan kepada kita untuk mengurus keluarga yang telah titipkan kepada kita.  Ingatlah bahwa setiap kita adalah imam-imam bagi keluarga kita.  Itulah sebabnya kita sebagai pria-pria Kristen harus senantiasa ada di tengah-tengah keluarga kita dan membangun kehidupan spriritual di dalam keluarga kita. Bawalah istri dan anak-anak untuk semakin dekat dengan Tuhan. Tetapi sebelum itu semua maka kita sebagai seorang pria pun haruslah hidup dekat dengan Tuhan.  Amin.                                    Jho