DESIGN ALLAH untuk KELUARGA

by samuelyasa


2:18  TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” . . . 20  Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 21  Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22  Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23  Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” 24  Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25  Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.                                      

 (Kejadian)

 

Keluarga yang dibentuk melalui penyatuan laki-2 dan perempuan melalui perkawinan (pernikahan) adalah puncak hubungan antar manusia yang berlainan jenis, bahkan disebut sebagai relasi yang paling eksklusif yg pernah ada.  Ini adalah proses penyatuan (dua menjadi satu) yang sangat misterius namun dapat kita terima sebagai cara Allah yang ajaib.  Kondisi demikian seharusnya membuat kita selalu tertegun, heran dan bersyukur kepada Allah sebagai Inisiator keluarga. Mengapa demikian? Paling tidak ada beberapa bagian nats yang membutuhkan perenungan lebih lanjut agar kita memahaminya, antara lain:

 

  1. Memang Allah merancangnya demikian, yakni Allah-lah yang memberikan penolong bagi manusia itu.
  2. Wanita dibentuk oleh Allah dari manusia. Ia disebut dengan perempuan karena diambil dari laki-2.
  3. Pada akhirnya laki-2 harus menempatkan perempuan sebagai yang utama (menjadi satu), karena sekalipun ia tetap menghormati orangtuanya manusia mesti bersatu dengan istrinya.

Ketelanjangan dan rasa malu seolah-olah menjadi paket lengkap yang dimiliki oleh manusia namun hal ini tidak berlaku dalam konteks pernikahan (keluarga). Pernahkah anda pikirkan?            jp