Berkenankah Ibadahmu? Amos 5:21-27

by samuelyasa


Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Am. 5:24)

 

Amos adalah seorang nabi Tuhan melayani pada zaman Uzia, raja Yehuda (792–740 SM), dan zaman Yerobeam II, anak Yoas, raja Israel (793–753 SM).  Pada masa itu, kerajaan Yehuda dan Israel sedang mengalami kestabilan dan kemakmuran dalam segi politik dan ekonomi.  Masing-masing kerajaan mampu melakukan perluasan batas-batas wilayah. Kekuatan militer berkembang sedemikian rupa sehingga mampu menghalau musuh-musuh asing. Dalam periode ini, Israel dan Yehuda hidup berdampingan secara damai, sehingga berdampak pada usaha-usaha perdagangan dan produksi pertanian yang berkembang dengan cukup pesat.  Namun, kesusksesan dan kejayaan tidak diikuti dengan peningkatan moral kedua bangsa ini.  Pada masa Amos melayani, penindasan atas kaum miskin oleh orang kaya adalah hal yang umum dilakukan (2:6-7). Sikap tak acuh di kalangan orang berduit terhadap kesengsaraan orang yang lapar juga sangat mencolok (6:3-6). Keadilan ada pada orang yang menawar paling tinggi (2:6; 8:6). Dalam musim kering (4:7-9) orang miskin hanya dapat meminta pertolongan kepada lintah darat (5:11-12; 8:4-6), yang kepadanya ia sering terpaksa menggadaikan tanahnya dan bahkan dirinya sendiri.  Bagi Allah, ini adalah kekejian dan dosa. Melihat hal ini, maka Tuhan memakai Amos untuk membagikan auman singa (3:8). Allah telah berfirman kepada umat-Nya, dan Amos adalah pembawa pesan Allah yang dipilih untuk menyampaikan berita penghukuman dan kecaman.  Secara khusus dalam bagian yang kita renungkan hari ini, di mana Amos menyampaikan bahwa Allah membenci perayaan mereka, tidak senang pada perkumpulan raya mereka, tidak suka dengan korban-korban bakaran dan sajian mereka, tidak mau memandang korban keselamatan mereka, serta tidak mau mendengar keramaian nyanyian dan permainan gambus mereka.  Apa yang menyebabkan Allah bertindak demikian? Allah bertindak demikian karena ibadah mereka dipenuhi dengan kemunafikan.  Bangsa Israel berharap Allah membenarkan dosa2 yg telah mereka lakukan (diuraikan di paragraf sebelumnya) dg melakukan semua yg tertulis dlm ayat 21-23, shg mereka dapat terus-menerus melakukan dosa kembali. Mereka beranggapan bahwa perayaan2 & korban2 yg mereka lakukan dapat menutupi dosa-dosa mereka.Ketidakmurnian motivasi  menyebabkan Allah tidak berkenan atas ibadah yg mereka lakukan.  Bagaimana dg ibadah yg kita jalankan?  Sudahkah kita jalankan dengan hati yg murni & tulus?  Ataukah  berharap Allah “membenarkan” dosa kita melalui ibadah yg kita lakukan tiap minggu?  Kiranya Tuhan memurnikan motivasi setiap kita.  Amin.         cu