Inilah Tuntutan-Nya. Mikha 2:1-5, 3:1-8, 6:8

by samuelyasa


“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”(Mi. 6:8)

 

Mikha, seorang nabi Tuhan yang namanya berarti “Siapakah yang seperti Yahweh?” adalah seorang yang berasal dari Moresyet-Gat (1:1,14).   Pencatatan daerah asal Mikha mengandung sebuah pengertian bahwa saat itu Mikha tidak melayani di daerahnya sendiri. Kemungkinan besar, Mikha melayani di Yerusalem. Ia melayani pada zaman pemerintahan raja Yotam (742-735 SM), Ahas (735-715 SM) dan Hizkia (715-686 SM).

 

Mikha hidup dalam keadaan di mana para penguasa bertindak semena-mena. Mereka mengingini, merampas dan menyerobot harta orang lain (2:1-5). Tindakan yang dilakukan oleh penguasa ini mengakibatkan orang lain menderita dan tidak berdaya dan merubah status sosial mereka.  Oleh karena itu tidak heran jika seorang penafsir mengatakan demikian, “without property there is no power to act. The man who treads on strange ground, touches strange property at every movement he makes, is not a free man” (tanpa adanya harta tidak ada kuasa untuk bertindak. Seseorang yang menginjak sebidang tanah asing, menyentuh setiap milik dari orang lain dalam setiap pergerakan yang ia lakukan, bukanlah seorang yang bebas). Hal ini merupakan kekejian di mata TUHAN.

 

Melihat hal ini, maka TUHAN memakai Mikha untuk menegur dan mengingatkan agar mereka berbalik kepada TUHAN. Namun, mereka yang tetap tidak berbalik dan keadilan tidak dijalankan oleh para aparat penegak hukum, termasuk diantaranya para nabi yang tidak menjalankan fungsi mereka dengan baik (3:1-8). Mereka tidak berani menyampaikan penghukuman dan teguran dari Tuhan kerena sesungguhnya mulut mereka telah terisi penuh. Melihat hal ini, tidak heran bila seorang penafsir mengatakan demikian, “what comes out of the mouth of these prophets depends upon what has been put into it” (apa yang keluar dari mulut para nabi ini tergantung dari apa yang masuk ke dalamnya).  Lebih keras lagi, penafsir yang lain mengatakan demikian, “money spoke louder than God” (uang bebicara lebih nyaring daripada Tuhan). Oleh karena itu, Mikha

 

 

menyampaikan hukuman baik kepada para pemimpin yang lalim ataupun nabi palsu itu.

 

Sebagai anak-anak Tuhan, sudahkah kita berperan dalam menyuarakan dan mengurangi tindakan ketidakadilan sosial yang terjadi di lingkungan kita?   Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan bahwa keadilan sosial merupakan hal penting yang diinginkan dan diminta oleh TUHAN untuk kita wujud nyatakan.  Kiranya Tuhan menolong kita. Amin. cu

Iklan