Muliakanlah Dia! Amsal 14:31

by samuelyasa


“Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”

 (Ams. 14:31)

 

Pada tanggal 24 April 2011 yang lalu, seorang tokoh spiritual India, Sathya Sai Baba meninggal dunia.  Kematian tokoh spiritual yang meninggal dunia pada usia 86 tahun ini meninggalkan duka yang mendalam pada diri pengikutnya.  Bagi para pengikutnya, Sai Baba adalah sosok yang istimewa yang telah berhasil bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk menyelenggarakan kegiatan amal, seperti membangun sekolah gratis, rumah sakit dan lain-lain. Saat ini diperkirakan terdapat 1.200 Pusat Sathya Sai Baba yang tersebar di 114 negara. Kepedulian Sai Baba terhadap wong cilik membuat dirinya dicintai dan diagung-agungkan oleh banyak orang.

 

Dalam bagian yang kita baca hari ini, kita menjumpai frasa “memuliakan Dia.”  Namun, kita juga menjumpai frasa yang berlawanan dengan frasa “memuliakan Dia,” yakni: frasa “menghina Penciptanya.”  Dengan apa, kita dapat memuliakan Pencipta kita?  Kita dapat memuliakan pencipta kita dengan menaruh belas kasihan kepada orang miskin.  Lalu, apakah cukup kita hanya menaruh belas kasihan saja?  Jika tidak, lalu sebenarnya apa yang tercakup dalam frasa “menaruh belas kasihan?” Jika kita membandingkan dengan salah satu versi bahasa Inggris (NIV), maka NIV mengunakan kata “kind.”  Jika demikian, apa arti dari kata “kind” itu sendiri?  Cambridge Dictionary memberikan definisi untuk kata “kind” demikian, “generous, helpful and thinking about other people’s feelings” (murah hati, membantu dan memikirkan perasaan orang lain).  Jadi, frasa “menaruh belas kasihan” dalam bagian ini dapat dimengerti sebagai sebuah sikap hati, kemurahan hati, yang dinyatakan melalui sebuah tindakan nyata, membantu.

 

Sebagai anak-anak Tuhan, di mana tujuan akhir hidup kita adalah untuk memuliakan Dia, sudahkah kita memiliki belas kasihan kepada orang miskin? Apakah kita mau peduli pada mereka?  Segeralah pedulikan mereka!  Karena dengan demikian, kita sudah memuliakan Pencipta kita.  Kiranya Tuhan menolong dan memampukan setiap kita.  Amin.

 

Q. 1. What is the chief end of man?

A. Man’s chief end is to glorify God,and to enjoy him forever.

westminster shorter catechis cu

Iklan