Tak Ada yang Lain. Galatia1:6-10

by samuelyasa


Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik daripada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,”                                                                        (Gal. 1:6)

 

Dalam Kisah Para Rasul 13-14, kita menjupai bahwa Paulus dan Barnabas melakukan penginjilan di bagian selatan dari provinsi Galatia, seperti Antiokhia, Ikonium, Listra dan Derbe (lih. Peta Alkitab).  Hasilnya, tidak sedikit orang yang menerima berita Injil yang mereka baritakan dan bertobat.  Namun, pertobatan mereka tidak berlangsung lama.  Rupanya, sepeninggal Paulus dan Barnabas, ada beberapa orang Yahudi Kristen datang ke sana dan mengajarkan iman di dalam Yesus Kristus juga mencakup ketundukan mereka terhadap hukum Taurat.

 

Oleh karena itu, tidak heran jika dalam beberapa bagian kita menjumpai bahwa mereka masih melakukan sunat (Gal. 5:2), menaati hukum Taurat (Gal. 3:5), dan merayakan hari-hari raya Yahudi (Gal. 4:10).  Hal inilah yang  membuat Paulus menjadi marah.  Mereka berbalik dari Kristus.  Perlu untuk kita ketahui bahwa kata berbalik dalam bagian ini lebih tepat jika diterjemahkan dengan meninggalkan dan biasanya digunakan dalam konteks militer, di mana seseorang yang berbalik dapat dijatuhi dengan hukuman mati. Mereka dengan cepat meninggalkan Injil yang asli dan menerima injil lain yang diberitakan oleh guru-guru palsu tersebut.

Kemarahan Paulus bukanlah kemarahan yang sepele dan remeh.  Namun, kemarahan yang sangat serius.  Hal ini dapat dijumpai dari kata terkutuklah yang muncul sebanyak dua kali dalam bagian yang kita baca dan renungkan hari ini.  Kata terkutuklah berasal dari kata Yunani, anathema, di mana kata ini mempunyai pengertian menyerahkan seseorang ke dalam kebinasaan dalam neraka yang kekal.  Lalu, siapa yang mempunyai kemungkinan untuk memberitakan injil lain?  Paulus menunjuk kepada tiga pribadi, yaitu: rasul, malaikat dan orang lain.  Rasul adalah orang yang tidak mungkin untuk membelokkan Injil, apalagi Malaikat, sangat tidak mungkin untuk membelokkan Injil.

 

Sekalipun “dapat” maka terkutuklah mereka.  Setelah itu, Paulus berbalik dari suatu hal yang tidak mungkin terjadi menuju ke suatu hal yang mungkin terjadi.  Siapakah yang mungkin? Ada guru-guru palsu yang mungkin untuk memberitakan injil lain.  Oleh karena itu, ia adalah orang

 

yang harus dilemparkan ke neraka yang kekal. Berbicara mengenai ekslusivitas gereja, maka sudah seharusnya kita memiliki sikap seperti Paulus, di mana kita harus berani dengan tegas menyatakan salah kepada orang-orang yeng memberitakan injil lain itu. Injil yang sejati adalah Injil yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya melalui iman di dalam Yesus Kristus, tidak ada yang lain.Sudahkah mewartakan Injil yang sejati itu? Kiranya Tuhan menolong kita.  Amin.                                          cu