BAHAYA INDIVIDUALISTIK

by samuelyasa


Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.(Ibrani 10:25)

Di tengah dunia global saat ini, sebagian besar orang dengan serius memikirkan hingga teknologi komunikasi berkembang semakin canggih karena menyadari pentingnya komunikasi yang cepat. Tapi, justru Kekristenan sangat kurang berkomunikasi. Contohnya, dalam Perjamuan Kasih, kebanyakan orang lebih suka berbicara dengan mereka yang sudah dikenal. Akibatnya, mereka yang belum kenal tidak akan pernah dikenal, padahal setiap Minggu bertemu di Gereja. Dunia telah mempengaruhi orang Kristen hingga menjadi semakin individual dan tidak peduli terhadap orang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tembok dan pagar rumah di kota besar dibangun semakin tinggi hingga tetangga sebelah rumah pun tidak kenal dan tidak mau dikenal secara personal. Kalau ada yang mencoba untuk mengenalnya maka timbullah rasa curiga. Para kenalan dan relasi pun hanya sebatas urusan bisnis serta pekerjaan. Tanpa tembok dan pagar tinggi, sebagian orang akan merasa uneasy (tidak nyaman). Padahal dengan komunikasi, komunitas akan menjadi lebih akrab.  Gejala sikap individualistik juga masuk ke dalam lingkungan Gereja. Misalnya, banyak jemaat merasa tidak suka jika dibesuki karena takut pergumulan pribadi dan urusan rumah tangganya diketahui oleh orang lain. Kalau mau berbincang-bincang, cukup mengenai fashion (pakaian), film, makanan, mall (plaza) dan sebagainya. Tapi, jangan membicarakan tentang hubungan pribadi antara engkau dan aku. Tak ada lagi keinginan untuk sharing antar pribadi. Seandainya sharing pun, momen tersebut digunakan untuk menyombongkan diri. Ketika sudah terjepit ke dalam kondisi yang sangat parah, barulah ia bersedia untuk konseling. Padahal dengan hubungan baik, sebelum keadaan memburuk, masalah sudah terdekteksi dan rekan-rekan pun dapat segera menolong.  Ada pula yang merasa bahwa persekutuan dengan sesama orang percaya tidaklah penting, ini dapat dikatakan bahwa orang tersebut mulai dipengaruhi oleh sikap individual, namun kita harus selalu mengingat bahwa Tuhan telah mengingatkan kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah, karena ketika kita menjauhi persekutuan, maka lambat laun kita menjadi orang percaya yang semakin mundur dan tidak bertumbuh. Biarlah setiap kita terus berjuang melawan sikap individualistik yang seharusnya tidak berkembang dalam diri orang percaya.