GEREJA yang KUDUS

by samuelyasa


6:1 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. 2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. 3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yesaya)

Boleh dikatakan hampir setiap manusia beragama akan mengatakan bahwa rumah ibadah adalah tempat yang kudus, tempat yang disakralkan sehingga terkadang menuntut umatnya untuk melakukan hal-hal tertentu agar dianggap layak dan pantas untuk memasukinya. Bahkan di dalam rumah ibadah itu sendiri ada ruang-ruang tertentu yang dianggap lebih suci dan tidak semtiap orang dapat memasukinya, biasanya ruang-2 tersebut dikhususkan hanya bagi para imam atau pemimpin ibadah. Apakah pandangan dan konsep demikian ini salah? Tentu saja tidak, setidaknya hal itu akan mengajarkan umat agar menghargai rumah ibadah sebagai tempat untuk menyembah Tuhan yang kudus.
Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Gereja yg Kudus? Apakah hal ini terkait dengan konsep teritorial di mana Tuhan diletakkan di satu wilayah tertentu di dalam rumah ibadah dan tempat itu kemudian disebut sebagai tempat kudus atau tempat maha kudus? Dengan tetap menghargai konsep konservatif tentang gereja sebagai tempat kudus, sesungguhnya kekudusan tidak berangkat dari kekhususan; karena sebuah ruang dikhususkan bagi Tuhan maka serta merta tempat itu menjadi kudus.

Kekudusan dimulai dari pribadi Allah yg Kudus, dan di mana Yang Maha Kudus ini berada maka disitulah kekudusan berada. Tatkala IA berkenan tinggal dalam gereja-Nya maka Kuduslah gereja tersebut. Gereja yg adalah umat-Nya yang beribadah adalah umat yang telah dikuduskan-Nya dan yang diperkenan untuk datang menyembah-Nya. jp