Peduli Terhadap Pekerjaan Allah

by samuelyasa


(Nehemia 2:11-20)

Banyak orang waktu dalam keadaan yang nyaman sudah berpuas diri dan tidak lagi memikirkan pekerjaan Tuhan. Nehemia sudah hidup enak sebagai juru mimun raja tetapi cari susah, sudah mapan tetapi cari perkara. Tentunya cari perkara atau masalah di sini maksudnya adalah tetap meresponi panggilan Tuhan dan berani susah di tengah keadaannya yang nyaman. Nehemia tiba di Yerusalem setelah menempuh perjalanan yang mungkin mencapai beberapa bulan. Setelah Nehemia tiba ia mulai menjalankan satu rencananya untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Nehemia tidak memberitahukan rencananya kepada siapapun (ayat 12).Nehemia adalah orang yang berdoa sekaligus bertindak.Ia punya kerinduan untuk membangun tembok Yerusalem dan memperbaiki gerbang yang dibakar. Itu sebabnya ia keluar malam-malam dengan diam untuk melakukan rencana yang diberikan Allah dalam hatinya. Nehemia yakin bahwa apa yang ia lakukan bukan keinginan atau ambisi pribadinya tetapi karena apa yang diberikan Tuhan dalam hatinya. Setelah Nehemia meneliti, ia baru menceritakan rencananya ke beberapa orang. Respon mereka adalah siap untuk membangun dengan sekuat tenaga.Nehemia juga memberitahu bagaimana Tuhan menjawab doanya, memberikan beban dalam hatinya dan bagaimana raja juga dipersiapkan Tuhan untuk mendukung pekerjaan-Nya.Di tengah-tengah giatnya mereka mengerjakan pekerjaan Tuhan, kini muncullah penghambat dan pengacau (ayat 19). Pekerjaan Tuhan memang bukanlah pekerjaan yang gampang, tanpa hambatan dan dapat kita lakukan dengan seenaknya. Namun Nehemia mau keluar dari zona nyamannya untuk melakukan pekerjaan itu. Mengapa Nehemia bisa berbuat demikian?Karena Nehemia punya relasi dengan Tuhan. Orang yang tidak pernah memikirkan panggilan dan pekerjaan Tuhan pasti karena ia tidak punya relasi yang baik dengan Tuhan. Sebaliknya orang yang punya relasi yang baik dengan Tuhan pasti memiliki kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan.Orang yang punya relasi dengan Tuhan pasti peduli dan tidak nyaman jika hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia sadar hidupnya adalah untuk meresponi anugerah Allah. Orang yang tidak peduli dengan pekerjaan Allah adalah sama dengan orang yang menghina Allah. Ada di posisi manakah kita saat ini? Apakah kita memiliki keterbebanan dan kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan, ataukah kita terlena dengan zona nyaman kita dan bersikap acuh tak acuh. Allah peduli terhadap pekerjaan-Nya dan Dia inginkan kita menjadi rekan kerja-Nya, maukah kita? Dan