Allah Peduli Dengan Kebutuhan Kita

by samuelyasa


Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Matius 6:32

Ada dua teologi yang salah (dua ekstrim yang harus dihindari):1.) Teologi Kemakmuran (theology of prosperity).Pada intinya, mengajarkan bahwa kita ini adalah anak Raja dan Pencipta seluruh alam semesta ini.Kalau Bapa kita di surga begitu kaya raya, kita tidak mungkin miskin atau sederhana.Bahaya teologi ini adalah ingin membenarkan “keserakahan/ketamakan” dan “cinta akan uang”. 2.) Teologi Kemiskinan (theology of poverty). Teologi kemiskinan bertolak belakang dari teologi kemakmuran (esktrim yang satunya).Menurut teologi ini, kita harus menderita seperti Kristus pun menderita selama hidup-Nya di dunia.Uang dan materi hanyalah menjauhkan kita dari Tuhan.Kadang-kadang, ada saja anak Tuhan yang memiliki pandangan ini dalam hidupnya dan berkata “Tidak apa-apa saya miskin.Kalau saya menderita sekarang itu memang salib yang harus saya pikul.”Padahal alasan ini dipakai untuk menjadi dalih dia malas bekerja.Bahaya teologi ini ingin membenarkan “sikap kemalasan”.
Kesalahan terbesar kedua teologi ini adalah bahwa keduanya tidak melihat secara menyeluruh pesan Alkitab tentang bagaimana Tuhan memelihara keuangan kita.Ayat ini menyatakan bahwa Allah mengerti dan peduli terhadap semua kebutuhan kita dan Dia akan mencukupkannya sehingga kita tidak perlu kuatir terhadap hal itu. Namun disisi lain kita juga diingatkan bahwa segala hal yang kita miliki adalah milik Allah, sehingga kita wajib mengusahakan dan mengelolanya. Sekalipun inti pemberitaannya berbeda, namun perumpamaan tentang hamba dan talenta memberikan menunjukkan bahwa Allah ingin kita mengelola apa yang telah Ia berikan. Hamba dengan satu talenta dijuluki “malas” (ay. 26) karena sama sekali mengerjakankan uang tersebut.

Kembali pada perikop perenungan kita, Allah sungguh peduli dengan kebutuhan kita jika kita peduli dengan Kerajaan Allah (Mat.6:33). Ketika kita berkata bahwa Allah peduli dengan kebutuhan dan keuangan kita, maka ini bukanlah soal uang. Ini adalah soal Kerajaan Allah! Keberhasilan kita sebagai seorang bendahara bukan dari seberapa banyak yang Allah berikan melainkan seberapa banyak yang kita kembalikan kepada Allah! (Mat. 25:20, 22) Dan