Penderitaan: Apa sih yang sesungguhnya dimaui Tuhan?

by samuelyasa


“Murka-Ku menyala terhadap kalian, karena kalian tidak berkata benar tentang Aku, seperti hamba-Ku Ayub”                        Ibrani9:28-10:1

 

Seorang biarawati Katolik, Monica Hellwig, mendaftarkan “nilai lebih” penderitaan dan kesakitan, tanpa bermaksud untuk memuja penderitaan dan kesakitan itu sendiri. Hellwig melihat paling tidak, sedikitnya ada sepuluh nilai lebih dari penderitaan: (1) Penderitaan membuat orang menyadari kebutuhannya akan penebusan. Membuat ia terbuka untuk Injil; (2) Kesakitan membuat orang sadar akan tergantungannya kepada Allah dan kepada sesamanya yang sehat. Tapi juga saling ketergantungannya dengan saudara-saudaranya senasib; (3) Penderitaan membuat orang tidak mempertaruhkan pengharapan mereka kepada benda-benda, yang cuma memberikan kepuasan semu dan sementara; (4) Penderitaan mendidik orang untuk tidak melebih-lebihkan kemandiriannya, melainkan belajar bersikap rendah hati; (5) Penderitaan membuat orang lebih menekankan ko-operasi (kerjasama) ketimbang kompetisi (persaingan); (6) Penderitaan memampukan orang membedakan kebutuhan dari kemewahan; (7) Penderitaan mengajarkan kesabaran; (8) Penderitaan memungkinkan orang mengenali perbedaan antara ketakutan yang wajar dan yang berlebihan; Dan (10) Penderitaan membebaskan orang untuk merealisasikan panggilan jiwanya.Tentunya tidak mudah setiap kita bisa melihat nilai lebih dari penderitaan. Ayub hanya dalam hitungan hari — mungkin jam — seluruh kutuk neraka seolah-olah ditumpahkan ke setiap relung kehidupan Ayub dan yang paling menyakitkan adalah “rasa ditinggalkan”; “rasa dikhianati”. Temannya berkata “Benar, Yub, melalui kesakitanmu Tuhan memang ingin mengatakan sesuatu. Sebab tidak ada akibat tanpa sebab, ‘kan? Tuhan tidak mungkin bertindak sembarangan. Kepada yang setia, Ia menyediakan pahala. Kepada yang berdosa, Ia menyediakan hukuman. Fair! Karena itu, Yub, demi kebaikanmu sendiri, berhentilah mengeluh. Akui dosa-dosamu!”Bahkan istrinya berkata, “Kutukilah Allahmu dan matilah!” sungguh Ayub sempat goncang karenanya hal itu. Namun kitab Ayub sesungguhnya mengajarkan pada kita kesetiaan kita kepada Allah, tidak boleh kita gantungkan kepada apakah Ia memberikan yang kita inginkan atau tidak. Ini adalah mental pengemis dan pengamen murahan! Dan ini adalah kualitas iman yang paling rendah! Ketika senang, Tuhanku sayang; tapi ketika sedikit saja dikecewakan, Tuhanku malang.TUHAN hanya mau kesetiaan kita.(ant)

 

Doa: Ya Bapa Ajarku tetap setia dalam tiap keadaan. Amin