Antara Penderitaan, Sakit Penyakit dan Dosa

by samuelyasa


“Aku cemburu kepada pembual-pembual, sebab kesakitan tidak ada pada mereka. Sehat dan gemuk tubuh mereka. Mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain… sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersihdan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”                                                                                Mazmur 73:3-5; 13-14.                                                        

Ada waktu-waktu tertentu, ketika hidup kita berlangsung mulus. Sepertinya bumi tempat kaki kita berpijak, subur dan hijau semata. Matahari bersinar cerah dan angin sejuk bertiup lembut. Tentunya bagi kita tidak terlalu sulit untuk mempercayai kebaikan dan kasih Allah.Namun bisa saja bahwa matahari yang sama itu bisa menjadikan gurun pasir dan membuat jutaan orang kelaparan. Bahwa angin yang sama juga, tiba-tiba bisa berubah jadi puting beliung, yang menimbulkan kerusakan yang luarbiasa dan maut. Tatkala ini semua berlangsung, masih mampukah kita dengan jujur memuji kebaikan dan kasih Allah? Keluhan Pemazmur ternyata kurang lebih sama sebagaimana cerita ini. Apabila segala kesalehan hidup yang kita kerjakan dan lakukan berlaku lurus dengan berkat materi serta kesehatan, pastinya setiap kita tidak sulit untuk mengucap syukur.Namun apakah kita mampu tetap bersyukur apabila yang terjadi sebaliknya?Kita perlu berhati-hati dalam membicarakannya.Kesakitan sebagai lawan dari sehat dimaksudkan sebagai sistem pemberi tanda bahaya yang efektif.Untuk itu menurut Yancey perlu dibedakan memahami penyakit dan penderitaan. Yang pertama adalah “kesakitan” = pain dipahami untuk menunjuk kepada sistem perlindungan tubuh. Dan yang kedua adalah berbicara tentang “penderitaan” = suffering dipahami sebagai sesuatu untuk memperlihatkan sisi kelam kenyataan hidup manusia. Sehingga bisa jadi tidak semua orang mengalami “rasa sakit”, namun setiap orang pasti mempunyai “penderitaan” atau “salib”nya masing-masing, kekurangan pribadi, hubungan yang pecah, kenangan pahit masa lalu, rasa bersalah yang mengejar dan lain sebagainya.Sedangkan membicarakan dosa tidak berarti dengan serta merta membicarakan tentang hukuman dan waktu penghukuman melainkan berbicara tentang perbuatan yang membawa pada akibat penghukuman.Lalu kenapa harus iri?(ant).

 

DOA: Bapaku mau belajar terima segala sesuatu dengan ringan bersamaMu.