Relevansi Atas Penderitaan Yang Tak Terselami

by samuelyasa


“Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan”                                                                                                Ibrani11: 36-37

 

Alkitab dengan konsisten menegaskan, bahwa kesakitan bukanlah yang terburuk. Para nabi Allah bahkan memperagakan ini di dalam kehidupan nyata mereka. Bacalah kisah nabi-nabi Elia, Yeremia, Hosea, Ayub! Dan apa yang mereka alami semua juga diceritakan dengan sangat gamblang dalam Ibrani 11. Hal ini juga bukan berarti bahwa penderitaan dan segala macam bentuknya termasuk sakit penyakit bukan “takdir”.Takdir atau fatalisme bukanlah sikap iman kristiani yang benar. Allah tidak pernah menyukai kesakitan, seperti kita pun tidak menyukainya! Kalau pun Ia meletakkan realitas kesakitan di depan kita, itu adalah karena Ia ingin kita melawannya dan mengatasinya. Sikap Tuhan itu nyata sekali dalam perumpamaan orang samaria yang baik hati (Lukas 10) bahwa Ia menghendaki kesehatan, kekuatan dan damai sejahtera. Yang relevan bukanlah “mengapa”nya dari setiap penderitaan dan segala macam pencobaan hidup.  Akan tetapi “bagaimana meresponi”nya, apakah kita biarkan penderitaan itu mematahkan semangat kita dan memadamkan seluruh vitalitas hidup kita? Atau, walau amat terbatas dan lemah, kita masih dapat menjadikan hidup kita tetap bermakna? Perhatikan disekeliling kita, tidakkah kita terharu melihat seorang bocah kecil yang walau tak dapat lagi menggunakan tangannya untuk melukis, ia tidak menyerah. Ia memakai mulutnya. Daripada kita berdiri didepan sesama kita yang menderita sambil berkata, “ini adalah kehendak Tuhan.”Mari kita belajar dari para pahlawan iman yang dengan setia menjalani hidup meski hidup demikian berat bahkan berujung pada maut.Ada yang diejek, didera, dibelenggu dan dipenjarakan, bahkan mati terbunuh.Sepanjang hidup mengalami kesesakan dan penderitaan hingga maut menjemput, mereka tetaplah meresponi hidup dengan tidak pernah menyerah kalah. Yesus yang tahu bahwa kedatangan-Nya pun berujung kepada penderitaan dan maut pun tidak lantas hidup dalam fatalis melainkan mengisi hidup-Nya dengan melayani manusia dan tetap ikut ambil bagian dalam rencana Bapa-Nya mengalahkan penderitaan dan maut dengan menjadi penebusan atas dosa. Akankah kita menyerah kalah pada penderitaan?(ant).

 

DOA: Bapa mampukan aku menjalani bagianku.